Numbers ID | Biaya Kuliah di PTN Top Mahal? Siapa bilang?

Biaya Kuliah di PTN Top Mahal? Siapa bilang?

Ditulis oleh Vincent Ricardo, Founder Numbers ID, Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia

Dua hari yang lalu, sebuah tulisan yang singkatnya bercerita mengenai persepsi publik bahwasanya biaya kuliah di Universitas Indonesia mahal menjadi viral dikarenakan penulis sendiri merupakan mahasiswi dari Universitas Indonesia.

Adapun selain berisikan tentang mahalnya pendidikan di Universitas Indonesia, penulis juga mengungkapkan keluh kesahnya terhadap sikap mahasiswa yang condong apatis bahkan mencapai sikap antipati sehingga menggap orang-orang miskin sebagai golongan yang mengusahkan negara. Padahal para mahasiswa dan mahasiswi tersebut telah mendapatkan privilege untuk berkuliah di Universitas Indonesia itu.

Tulisan yang mengunggah hati tersebut hingga saat ini sudah mendapatkan 4000 likes. Namun  yang patut dipertanyakan adalah apakah benar bahwasanya pendidikan di Universitas Indonesia mahal? Apakah benar hanya orang-orang ber-privilege yang bisa berkuliah di Perguruan Tinggi Negri Favorit? Apakah benar mahasiswa-mahasiswi itu apatis bahkan antipati?

Apa itu mahal? Jika kita merujuk ke Kamus Besar Bahasa Indonesia, mahal adalah harga tinggi. Tentu untuk menentukan suatu harga itu tinggi atau tidak kita perlu menentukan harga untuk barang yang sejenis (like products). Ada pun barang sejenis tersebut biasanya dilihat dari karakteristik produk (product characteristic), kegunaan (end-uses) beserta konsumen produk itu sendiri (consumer tastes and habits).

Universitas Indonesia, berdasarkan versi pemeringkatan Quacquarelli Symonds (QS) World University Rangkings 2017/2018 yang baru saja dirilis pada Kamis (8/6/2017), mengalami peningkatan ranking dunia dari sebelumnya peringkat 325 ke peringkat 277 dunia. Universitas Indonesia menjadi satu-satunya universitas dari Indonesia yang masuk ke dalam 300 besar ranking dunia. Ada pun universitas dari Indonesia yang menyusul setelah Universitas Indonesia adalah Institut Teknologi Bandung di peringkat 331 dunia, Universitas Gajah Mada di peringkat 401-410, Universitas Airlangga di peringkat 701-750 serta Institut Pertanian Bogor di peringkat 751-800. (Baca : UI Satu-Satunya Perguruan Tinggi di Indonesia yang Masuk 300 Besar Dunia). Kelima Universitas ini dapat dikategorikan sebagai like products dikarenakan memiliki kesamaan karakteristik, kegunaan dan juga market behaviour yang cenderung serupa.

Universitas Indonesia dikenal dengan sederet fasilitas yang memadai baik dari Perpustakaan yang merupakan perpustakaan terbesar di Asia Tenggara, fasilitas Bis Kuning gratis untuk di kompleks UI, fasilitas sepeda kuning, akses Jurnal Internasional dan lain-lain. Memang benar ada beberapa kendala dalam pengelolaan fasilitas dan honorarium tenaga pengajar. Namun jika dibandingkan dengan PTN lain, Universitas Indonesia masih unggul dalam segi fasilitas maupun tenaga pengajar.

Biaya kuliah di Universitas Indonesia untuk Sarjana Program Reguler yang masuk lewat jalur SBMPTN dan SNMPTN pada tahun 2017, biaya yang dikenakan adalah 7.5 juta per-semester untuk IPA (Saintek & Kedokteran) dan 5 juta untuk IPS apabila memilih sistem pembayaran BOP-P (Biaya Operasional Pendidikan Pilihan). Namun terdapat penyesuaian biaya kuliah untuk BOP-B (Biaya Operasional Pendidikan Berkeadilan), dari Rp. 5.000.000 hingga Rp. 0,- (gratis) tergantung kemampuan orang tua. BOPB sendiri tidak sulit untuk didapatkan, mahasiswa hanya perlu memasukkan berkas yang diminta secara online dan menunggu hasil verifikasi dari Kemahasiswaan UI.  Selain itu, Universitas Indonesia sudah lama tidak memberlakukan uang pangkal. (Baca : apa itu BOP-P dan BOP-B)

Sedangkan untuk Institut Teknologi Bandung berdasarkan informasi Penerimaan Mahasiswa Baru Tahun 2017/2018, biaya kuliah persemester untuk IPA adalah 10 juta dan untuk IPS (Sekolah Bisnis Manajemen) adalah 20 juta. Namun, mahasiswa-mahasiswi baru masih dapat mengajukan biaya operasional yang disesuaikan dengan penghasilan orang tua.  Ada pun biaya kuliah paling rendah adalah Rp. 500 ribu untuk golongan I.

Untuk Universitas Gajah Mada, biaya kuliah dibedakan setiap jurusan. Namun berdasarkan berdasarkan data yang saya olah dari SK UKT S1 Universitas Gajah Mada, rata-rata uang kuliah untuk jurusan IPA adalah Rp. 9.780.000 dan IPS sebesar Rp. 7.400.000. Biaya kuliah yang paling murah setelah disesuaikan dengan pendapatan orang tua untuk golongan I adalah 500.000.

Universitas Airlangga sama seperti Universitas Gajah Mada, berdasarkan data dari website Unair biaya kuliahnya dibedakan setiap jurusan, namun rata-rata biaya kuliah untuk IPA umumnya lebih tinggi yaitu Rp. 11.300.000 dan IPS dengan rata-rata Rp. 7.900.000. Ada pun biaya kuliah paling rendah adalah Rp. 500 ribu untuk golongan I.

Dan yang terakhir biaya Kuliah Institut Pertanian Bogor adalah Rp. 11.000.000 untuk IPA dan Rp.10.300.000 juta untuk IPS. Sama seperti ITB, UGM dan Unair biaya kuliah paling rendah adalah Rp. 500 ribu untuk golongan I.

Jadi apakah biaya kuliah di Universitas Indonesia mahal? Jawabannya tentu saja tidak. Bahkan jika biaya kuliah untuk BOPP Universitas Indonesia ditambah sebesar Rp. 2.000.000, biaya kuliah di UI akan tetap lebih murah dibandingkan ITB, UGM, Unair dan IPB.

Lalu apakah Universitas Indonesia hanya untuk orang-orang dengan privilege? 

Apa itu privilege? Simpelnya privilege adalah keuntungan yang dimiliki sekelompok orang namun tidak dimiliki orang lain. Privilege ini sebenarnya sangat subjektif dikarenakan tiap-tiap kelompok pasti memiliki hal-hal yang tidak dimiliki oleh kelompok lain. Namun untuk mempermudah definisi privilege tersebut, kita akan mempersempit ke dalam privilege secara ekonomi.

Mia Fatimah, mahasiswi Ilmu Politik Universitas Indonesia angkatan 2014 telah membagikan ceritanya pada Numbers ID mengenai bagaimana ekonomi tidak menjadi alasan untuk tidak dapat berkuliah di Universitas Indonesia :

“Dulu saya tidak ikut bimbel untuk SBMPTN, tak tega meminta uang sebanyak itu pada orang tua saya. Uang yang bahkan melebihi jumlah gaji ayah saya dalam sebulan, seorang Satpam Mesjid beranak 4 dengan gaji 1,25 juta per bulan. Untuk mengkompensasinya, saya mulai belajar untuk persiapan SBMPTN sebelum anak-anak yang ikut bimbel mulai belajar, sehingga saya yang tidak bimbel dan berasal dari jurusan IPA ini akhirnya lulus SBMPTN di prodi impian yang masuk dalam rumpun IPS.

Saya belajar materi SBMPTN IPS dengan menggunakan LKS pelajaran IPS hasil pinjaman dari teman-teman saya, buku latihan soal UN IPS yang saya pinjam dari perpustakaan sekolah, dan bahan online dari website sbmptnsoal.com yang didapat secara gratis karena menjadi juara saat try out online. Lama-kelamaan, belajar materi IPS menjadi hal yang menyenangkan buat saya, semacam pelarian ketika saya penat belajar materi IPA. Ketika merasa lelah belajar, saya mencoba memotivasi diri sendiri dengan membayangkan perubahan keadaan ekonomi keluarga jika saya sukses nantinya.

 

Mia Fatimah saat menjabat Wakadep Aksi dan Propaganda BEM UI 2016

Sadar akan keterbatasan diri saya yang tak ikut bimbel, saya mulai belajar untuk SBMPTN sejak awal kelas XII SMA, ketika anak-anak lain di sekolah saya rata-rata mulai belajar di semester akhir kelas XII SMA. Konsekuensinya, saya harus membagi waktu antara belajar UN dan SBMPTN karena saya jurusan IPA di SMA dan di SBMPTN saya memilih tes IPS. Saya sadar, jika saya mulai belajar tidak lebih dulu dari mereka, saingan saya yang mungkin jumlahnya ribuan dan mungkin ikut bimbel, saya pasti akan kalah. Hasil tak pernah mengkhianati usaha, akhirnya saya lulus di pilihan pertama saya saat SBMPTN, Ilmu Politik Universitas Indonesia, jurusan impian saya.

Saya akhirnya bisa bertahan di Ilmu Politik UI hingga sekarang, semester 7 karena Bidikmisi yang saya dapatkan. Beasiswa ini menggratiskan uang kuliah penerimanya juga memberikan uang saku perbulannya. Pun, untuk anak-anak yang tidak mendaftar Bidikmisi, masih ada biaya kuliah berkeadilan yaitu sistem pembayaran yang jumlahnya disesuaikan dengan gaji orangtua. Banyak juga tersedia jenis beasiswa lainnya selain Bidikmisi. Intinya, keterbatasan biaya tak boleh menjadi penghalang kalian untuk menggapai impian.

Pertanyaan terakhir yang perlu dijawab adalah apakah benar mahasiswa cenderung memiliki sikap apatis atau antipati terhadap masyarakat miskin?

Kemiskinan singkatnya adalah ketidakmampuan orang-orang untuk memenuhi kebutuhan hidup pokok dikarenakan penghasilan yang lebih rendah daripada kebutuhan hidupnya. Kemiskinan tidak ada korelasinya dengan profesi petani, nelayan dan buruh. Kita bisa saja menemukan petani yang kaya raya, nelayan yang kaya raya serta buruh yang kaya raya. Buruh sendiri pun memiliki scope yang sangat besar, bahkan pekerja kantoran dengan gaji 25 juta per bulan juga dapat dikategorikan buruh.

Pertanyaan yang satu ini sangat sukar dijawab karena pengukurannya begitu sulit. Mungkin benar ada beberapa mahasiswa-mahasiswi yang tidak peduli dengan rakyat kecil. Namun lagi-lagi, ketidakapatisan seperti apakah yang menjadikan mahasiswa tidak apatis dan antipati?

Apakah berdemonstrasi memperjuangkan hak orang kecil tanpa adanya kajian ekonomi, sosial, politik dan hukum adalah bentuk dari sikap yang tidak apatis?

Apakah mahasiswa yang tidak mau berdemonstrasi memperjuangkan hak orang kecil tanpa adanya kajian ekonomi, sosial, politik dan hukum adalah bentuk dari sikap yang tidak apatis?

Apakah mahasiswa yang mengirimkan policy recommendation paper untuk mengentaskan kemiskinan ke pemerintah serta menolak untuk berdemonstrasi memperjuangkan hak orang kecil adalah bentuk apatis?

Apakah mahasiswa yang mengikuti perlombaan internasional dan memenangkan perlombaan di kancah internasional untuk mengharumkan negara merupakan bentuk sikap yang apatis terhadap rakyat kecil?

 

Educating for Diversity | Follow our social media @numbersacademy

(675)

Comments

comments