Numbers ID | Apakah Kita Harus Menjadi Seorang Filantrop?

Apakah Kita Harus Menjadi Seorang Filantrop?

Ditulis Oleh Lai Devin, Alumnus Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Economics Contributor Numbers ID

Filantrop. Dermawan. Kita sering melihat mereka sebagai seseorang yang murah hati dan berbelas kasih yang justru berlawanan dan mencoba melawan arus nilai konvensional serta teori dan motif ekonomi. Kita bahkan mengidolakan mereka, berusaha menjadi seperti mereka dan menjadikannya sebagai panutan (role model). Tapi apakah mereka benar-benar dermawan? Apakah kebaikan merupakan sesuatu yang sama nyatanya seperti uang yang mereka sebarkan ke seluruh penjuru dunia untuk membuat kita semua tersenyum dan membentuk dunia menjadi tempat yang lebih indah dengan kemiskinan dan kesengsaraan yang semakin berkurang?

Konsep kebaikan merupakan sesuatu yang inheren (sudah ada) di dalam diri manusia melalui hati nurani dan konsep moralitas. Kita memberi terhadap sesama terutama karena kita bersimpati atau bahkan berempati terhadap mereka, merasakan penderitaan mereka dan mencoba yang terbaik untuk mengatasi pilu mereka. Berdasarkan standar ajaran agama kita, memberi terhadap sesama bahkan merupakan keharusan bagi beberapa ajaran. Untuk beberapa ajaran lainnya, memberi terhadap sesama secara implisit dianjurkan untuk dilakukan (sebagai contoh adalah konsep karma dengan sebuah pernyataan sederhana “setiap aksi akan memiliki konsekuensinya”). Pada sebuah dunia yang utopis, hanya dengan peduli dan berbagai terhadap sesama mungkin saja akan membawa ribuan senyuman terhadap sesama kita.

Namun analisis dengan teori dan prinsip ekonomi kebanyakan mengarahkan kita untuk tidak berlaku sebagai seorang dermawan terutama karena menjadi dermawan akan menjadi sebuah biaya bagi kita. Memberikan uang kalian kepada orang lain akan mengurangi kemampuan membeli (purchasing power) yang kita miliki, mentransfer kemampuan “membeli gadget” saya kepada orang lain untuk makan tiga kali sehari atau menikmati fasilitas pendidikan lebih baik yang masih langka di beberapa desa atau kampung yang pembangunannya masih kurang di Indonesia namun tidak memberi apa-apa pada saya

Namun sampai pada batasan tertentu terdapat penjelasan ekonomi seseorang berlaku baik dan tidak dikategorikan sebagai seseorang yang irasional bahkan gila. Dari sudut pandang mikroekonomi, pernyataan bahwa fungsi kepuasan (utility function) merupakan fungsi dari konsumsi barang dan jasa pribadi untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan tidak berlaku secara universal jika kita mempertimbangkan sudut pandang yang dimiliki oleh para filantrop dimana mereka berusaha untuk menjadikan dunia sebagai tempat yang lebih baik, termasuk lingkungan di sekitar mereka. Membantu tetangga kita yang terjebak kemiskinan dan melihat mereka tersenyum akan membuat kita juga tersenyum, merasakan kepuasan atas apa yang mereka rasakan (mungkin empati bekerja secara sebaliknya). Keterkaitan emosi yang kita rasakan terhadap orang lain membuat kita untuk turut mempertimbangkan orang lain juga dalam fungsi kepuasan kita, menghindarkan kerakusan menimbun uang dan menghabiskannya hanya pada konsumsi mewah. Namun satu permasalahan muncul ketika teori ini dipertimbangkan yakni bahwa orang-orang kaya tidak tinggal bersebelahan dengan orang-orang miskin karena aglomerasi dan tarikan gravitasi.

Satu solusi dari masalah tersebut adalah untuk menyalurkan uang tersebut melalui perantara (termasuk organisasi amal, yayasan, dsb.) yang dikelola oleh ahlinya untuk menyalurkannya kepada yang membutuhkannya. Sebagai salah satu justifikasi, perantara tersebut tidak semata-mata didirikan untuk memperlihatkan kebanggaan atau sebagai media banding.

Pada sudut pandang yang lebih besar, memberi terhadap sesama dapat membantu perekonomian secara keseluruhan (teoritis). Salah satu teori mengatakan bahwa setiap tambahan pendapatan yang kita terima akan menghasilkan kepuasan marjinal yang semakin menurun (diminishing marginal utility). Hal tersebut berarti bahwa setiap $1 yang diterima oleh orang yang sudah memiliki kekayaan sebanyak $1.000.000 akan sangat tidak berarti dibandingkan dengan orang yang bahkan masih kesulitan mendapatkan $1,9 per hari (salah satu dari batasan kemiskinan yang digunakan oleh World Bank). Sebagai sebuah metafora, $1 tersebut dapat digunakan sebagai pembakar perapian bagi si kaya atau untuk mendapatkan satu kali tambahan makan bagi si miskin.

Bayangkan jika seluruh orang-orang kaya (terutama pada daftar orang kaya Forbes) bersedia untuk memberikan sebagian kekayaannya bagi orang lain, maka hal tersebut akan memberikan kepuasan ekonomi yang lebih besar dan lebih banyak kebahagiaan yang dirasakan. Selain CSR yang dilakukan perusahaan mereka, kita tidak tahu secara pasti apakah mereka melibatkan pribadi mereka untuk membantu orang lain. Masalah tambahan muncul ketika kita memperhitungkan kelas menengah yang sudah mencukupi kebutuhan pribadinya dan tidak dipungkiri bisa berkontribusi bagi masyarakat. Salah satu cara yang dapat ditempuh pemerintah untuk menjawab masalah tersebut adalah dengan memajaki warga negaranya dengan (biasanya tambahan) tujuan terdistribusi pendapatan terhadap warga negara yang kurang mampu dalam bentuk subsidi (barang maupun uang) atau infrastruktur yang lebih baik dan akses terhadap kebutuhan dasar.

Bentuk bantuan yang diarahkan oleh pemerintah tersebut bersifat penting terutama bila kita mempertimbangkan UN Statement on Poverty tahun 1988, dengan kutipan “Poverty is a denial of choices and opportunities, a violation of human dignity. It means lack of basic capacity to participate effectively in society…” dan kita bisa menyimpulkan bahwa salah satu akses yang dibutuhkan termasuk akses keuangan/pendanaan (sering kali perbankan) terutama bila kita mempertimbangkan bahwa masyarakat miskin sering kali tidak termasuk kategori bankable (kurang layak dalam mengakses kredit perbankan), sehingga mekanisme pasar tidak bisa menyelesaikan masalah ini secara sendirinya.

Namun terkadang pemerintah bisa juga gagal. Tergantung pada jenis institusi (baik ekonomi maupun politik, terutama politik) yang diterapkan pada negara bersangkutan, sistem perpajakan tersebut bisa menghasilkan hasil yang baik maupun buruk. Institusi inklusif adalah institusi yang terwujud pada kasus terbaik di dunia utopis, dimana pemerintah bisa melakukan terdistribusi pendapatan dari masyarakat yang sudah berkecukupan kepada masyarakat yang benar-benar membutuhkannya. Pada spektrum lainnya terdapat institusi ekstraktif yang merupakan pemerintah yang tidak berfungsi seperti seharusnya yang memberlakukan sistem perpajakan untuk memperkuat cengkeraman dan posisi mereka sebagai pimpinan negara bersangkutan, dan bahkan mengambil peran untuk menguntungkan kroni mereka, yakni kapitalisme kroni (crony capitalism). Pemerintah yang tidak berfungsi dalam perannya mengentaskan kemiskinan dapat kita jumpai terutama pada benua Afrika dan negara Dunia Baru (New World countries). Maka daripada itu institusi non-pemerintah dapat mengatasi kegagalan pemerintah tersebut dengan menyalurkan sumber daya (walaupun mungkin dalam jumlah lebih kecil karena donasi bersifat sukarela dan tidak bisa dipaksakan) secara langsung dan lebih efisien melalui kontrol yang lebih baik terhadap manajemen program dan tidak terjebak pada agenda politik negara bersangkutan (bilamana multinasional dan bisa menyalurkan donasi asing). Peran yayasan multinasional tersebut untuk membantu negara-negara yang masih dilanda kemiskinan terutama pada benua Afrika kemudian menjadi sangat penting karena pada negara bersangkutan sumber daya hanya dikuasai oleh beberapa pihak (yang mana saya kira akan tidak terlalu berkepentingan untuk memperbaiki kondisi negara mereka) sehingga sumber daya yang dapat disalurkan dalam bentuk bantuan tidaklah banyak tersedia sedari awal.

Sebagai kesimpulan, dari sudut pandang ekonomi maka akan selalu ada alasan untuk membantu sesama tanpa memperhatikan mengenai hati nurani, kedermawanan, ataupun hal semacamnya. Jika kalian tidak mempertimbangkan kepuasan orang lain terkait kepuasan diri kalian, berpikirlah secara lebih besar. Akan selalu ada seseorang seseorang dengan jarak 100 kilometer, 1 pulau, ataupun 1 benua disana yang akan tersenyum dengan sedikit saja dari kebaikan kalian. Terkadang berpikir dari sudut pandang diri kita sendiri merupakan sesuatu yang dapat diterima.

Educating for Diversity | Follow our social media @numbersacademy

(164)

Comments

comments