Numbers ID | Benarkah Libertarian atau Liberal Klasik Alergi terhadap Keynes dan Marx?

Benarkah Libertarian atau Liberal Klasik Alergi terhadap Keynes dan Marx?

Ditulis oleh Vincent Ricardo, Mahasiswa Ilmu Hukum Universitas Indonesia, Founder Numbers.ID & Charter Team Students For Liberty

Sudah dua minggu semenjak tulisan “Mempelajari Ekonomi Dengan Utuh Bersama Vincent Ricardo — Kritik Terhadap Kritik Terhadap Kritik Saya” yang mengkritik kembali balasan tulisan saya “Mempelajari Ekonomi dengan Utuh” terhadap kritik “Melawan Privatisasi Perguruan Tinggi” yang seluruhnya bersumber dari tulisan utama saya yaitu “Mendukung Komersialisasi Perguruan Tinggi dan Sesat Pikir Michael J. Sandel”. Namun dikarenakan kesibukan di kampus baik dari kegiatan kuliah, UAS, persiapan lomba serta kesibukan di kantor, saya baru sempat menuliskan balasan untuk tulisan tersebut saya hari ini.

Dalam tulisan “Mempelajari Ekonomi Dengan Utuh Bersama Vincent Ricardo – Kritik Terhadap Kritik Terhadap Kritik Saya”, penulis menuliskan bahwasanya tulisan saya masih jauh dari ekspetasinya. Saya sendiri tidak memahami apa ekspetasi yang penulis tuliskan di sana. Apakah penulis mengharapkan saya untuk memiliki satu pikiran dengan penulis?

Meskipun saya tidak bisa memenuhi ekspetasi pengkritik tulisan saya, biarkanlah dalam tulisan ini saya akan kembali menerangkan kembali betapa kelirunya kritik terakhir dari penulis.

Pertama – Pengeluaran Ekonomi tidak Memutar Roda Ekonomi

“Anggapan ini menafikan bentuk pengeluaran lain yang tak kalah besar seperti hibah riset dan proyek antar-universitas, yang lebih bersifat investasi jangka panjang daripada konsumsi yang menimbulkan “perputaran roda ekonomi”. Luputnya waktu sebagai variabel penting dalam menghitung agregat permintaan yang diciptakan pengeluaran mahasiswa maupun universitas dalam “memutar roda ekonomi” menunjukkan kelemahan dari bantahan kawan Vincent terhadap poin awal saya.”

Di dalam point ini, penulis telah menyatakan kesalahannya bahwasanya telah melakukan kecerobohan dalam kritik pertamanya. Namun alangkah sangat disayangkan, penulis kembali jatuh ke lobang yang sama dengan menyatakan dana hibah riset dan proyek antar-universitas tidak memutar roda perekonomian karena merupakan investasi jangka panjang.

Apa itu long-term investment atau investasi jangka panjang?

Jika kita merujuk ke kamus, arti dari long-term investment singkatnya adalah investasi yang terhitung lebih dari setahun. Hibah riset sendiri adalah pemberian uang secara cuma-cuma yang diberikan oleh seseorang tanpa meminta timbal balik untuk kepentingan riset. Pada umumnya universitas-universitas lah yang menerima dana hibah riset dari pemerintah atau perusahaan swasta. Sangat jarang universitas mengeluarkan dana untuk memberikan hibah riset. Akan tetapi terlepas apakah dana hibah riset berasal dari privat ataupun publik, keduanya tetap memberikan kontribusi terhadap perputaran ekonomi dikarenakan uang dari dana hibah riset itu akan tetap langsung dipergunakan dalam jangka waktu yang telah ditetapkan. Entah satu setengah tahun atau dua tahun. Begitu pula dengan proyek antar-universitas, akan ada uang yang langsung dikeluarkan di tiap-tiap periode selama waktu yang ditargetkan. Misalnya Universitas Indonesia menyisihkan uang sebesar 5 miliar untuk mendanai lomba mahasiswa selama dua tahun. Tentu tiap enam bulan sekali atau mungkin tiga bulan sekali dana tersebut akan dikeluarkan hingga habis pada tahun ke-2. Jadi jelas penulis jatuh ke lobang kesalahan yang sama untuk kedua kalinya.

Kedua – Memahami Monopoli dan Persaingan Pasar

“Hasil dari promosi diri universitas ini berarti bahwa jauh lebih mudah bagi universitas untuk memasarkan dirinya pada satu pangsa yang tetap, berdasarkan berbagai atribut dan ciri-ciri yang tidak melulu sejalan dengan kualitas pendidikan itu sendiri, daripada bersaing dengan universitas lain pada saentero pasar mahasiswa yang luas berdasarkan jiwa kompetifif semata. Sekolah bisnis mengenal istilah product differentiation (diferensiasi produk), yang merujuk pada teknik marketing untuk memasarkan produk-produk yang secara kualitas sebenarnya sama pada pangsa-pangsa yang berbeda. Seperti kata kawan Vincent dalam tulisannya, calon pembeli pendidikan mengenakan subjective value, atau memiliki persepsi yang berbeda, mengenai kualitas dan Return of Investment dari jalur pendidikan yang hendak mereka tempuh. Hasil dari promosi diri universitas ini berarti bahwa jauh lebih mudah bagi universitas untuk memasarkan dirinya pada satu pangsa yang tetap, berdasarkan berbagai atribut dan ciri-ciri yang tidak melulu sejalan dengan kualitas pendidikan itu sendiri, daripada bersaing dengan universitas lain pada saentero pasar mahasiswa yang luas berdasarkan jiwa kompetifif semata.”

Di sini ada dua hal yang saya ingin tegaskan yaitu penghormatan terhadap property rights dan kedua adalah kompetisi. Property rights adalah hak bagi seorang pemilik barang untuk menggunakan barangnya secara penuh tanpa adanya intervensi dari siapa pun sehingga dia dapat menggunakan barang yang dia miliki berdasarkan apa yang dia suka baik ingin dijual kepada orang kulit hitam saja, ingin dijual ke saudaranya saja atau mungkin disewakan kepada orang-orang yang seimannya saja. Apakah diskriminatif? Ya mungkin saja, tapi apakah sebuah diskriminasi pasti merupakan sesuatu yang salah secara moral? Toh dalam ilmu matematika sendiri dikenal diskriminan (D = b2 – 4ac). Di sini saya sarankan penulis untuk memahami penghormatan terhadap property rights terlebih dahulu melalui tulisan sahabat saya Cania Citta Irlanie dalam tulisannya Feminisme Kekinian: Melawan Diskriminasi dengan Mengabaikan Hak Milik?

Jadi apabila memang suatu universitas ingin menyelamatkan pangsanya, katakanlah Universitas Nurul Fikri yang ingin menyelamatkan pangsa mahasiswa relijius beragama Islam. Ya itu adalah haknya yang harus dihormati. Namun, apakah benar dengan begitu Universitas Nurul Fikri akan berhasil memonopoli pangsanya tersebut?

Mungkin penulis perlu sekiranya sesekali main ke Margonda untuk melihat perbandingan antara tiga universitas yaitu Universitas Indonesia, Universitas Gunadarma dan Universitas Nurul Fikri dan melihat bagaimana sistem pasar bekerja. Meskipun Universitas Nurul Fikri berusaha membangun image universitas yang religious akan tetapi jumlah mahasiswa/mahasiswinya sangat sedikit dibandingkan Universitas Indonesia dan Universitas Gunadarma. Kenapa? Jawabannya sederhana yakni adalah kualitas universitasnya. Jadi sekali lagi, kompetisi yang sehat akan menghasilkan monopoli alamiah yang tidak memiliki masalah.

Ketiga – Iman Dukungan Intervensi Negara

“Sayangnya, video tersebut tidak berhasil mengusir kepercayaan saya bahwa negara wajib menyediakan fasilitas fisik dan sosial agar pasar bebas bisa beroperasi. Setelah membandingkan kritik dalam video tersebut terhadap Mazhab Keynes dengan beberapa literatur mengenai pembentukan institusi pasar dan mode produksi kapitalisme sepanjang sejarah, saya masih jauh dari yakin bahwa pandangan liberalisme klasik tidak ahistoris.”

Di paragraf ini penulis menyatakan imannya terhadap kewajiban negara untuk mengintervensi. Tentu saja hal ini sulit untuk dikritisi kembali karena saya memahami benar bahwa persoalan iman adalah ranah pribadi. Saya sangat menghormati perbedaan kepercayaan, bahkan apabila ada seseorang yang mengimani Unicorn berwarna pink terbang tiap malam di langit atau seseorang yang mengimani bahwasanya ada teko teh kecil yang terbang di ruang angkasa saya akan menghormati hal tersebut. Namun mohon maaf, jika hal ini diterapkan dalam ilmu pengetahuan, ini adalah masalah yang serius dikarenakan menghambat berlangsungnya dialektika ilmu pengetahuan. Sudah sepatutnya seorang terpelajar memahami bahwasanya keyakinan bukanlah suatu hal yang menjadikan sebuah pernyataan menjadi benar.

Keempat – Alergi Libertarian dan Liberal Klasik terhadap Keynesian dan Marx

“Walau begitu, saya rasa sudah waktunya bagi kami untuk membawa diskusi ini ke ranah praktek dengan pembuktian empiris. Pun daripada itu, saya berharap bahwa dialog-dialog ke depan dapat menyembuhkan kaum Libertarian dan Liberal Klasik dari alergi akut terhadap Keynes dan Marx.”

Satu hal yang jelas belum bisa dilaksanakan saat ini adalah melakukan pembuktian empiris terhadap pelaksanaan privatisasi pendidikan tinggi di Indonesia dengan mencabut bantuan dana ke PTN dikarenakan belum pernah terjadi hal tersebut dan kemudian dibukanya sistem endowment dan usaha pemerintah membentuk iklim yang mendorong spontaneous order.

Lalu mengenai alergi kaum Libertarian dan Liberal Klasik terhadap Keynes dan Marx ini jelas adalah tuduhan yang tidak berdasar dan keliru atau yang masyarakat sebutnya sebagai fitnah. Para libertarian dan liberal klasik tidak pernah alergi terhadap Keynes dan Marx, justru kami mengkaji ide-ide Keynes dan Marx dan selalu melakukan studi komparasi terhadap Libertarianisme dan Liberalisme-Klasik. Pun mengingat buku-buku koleksi saya sendiri, saya juga adalah seorang penikmat buku-buku kiri dan interventionist pada mulanya baik dari buku-buku Marx, Engels, Tan Malaka, Pramoedya Ananta Toer, Albert Camus, Jean Paul Sartre, Arthur Scopenhauer hingga Foucault, Listiyono Santoso, Martin Suryajaya, Noam Chomsky, Michael J. Sandel dan Slavoj Zizek.

Tuduhan ini sontak mengingatkan saya pada Imantaka Nugraha, salah satu co-founder Students For Liberty Indonesia yang menunjukkan fotonya di zaman dahulu ketika masih mengidolakan Tan Malaka dengan kaos kekiri-kiriannya dan buku Madilog dengan bangga. Saya dulu juga seorang kiri dan sempat mengimani intervensi pasar namun pergulatan pikiran membawa saya berada dalam posisi di antara liberalisme klasik dan libertarian.

Murray Rothbard pernah mengatakan bahwasanya “Libertarianism does not offer you a way of life, It offers liberty so that each person is free to adopt & act upon his own values & moral principles”. Ini lah yang membedkan libertarianisme dengan ideologi kiri yang harus mengimani bahwa intervensi diperlukan dan bahkan jika perlu pemerintah berkuasa penuh atas ekonomi. Libertarianisme tidak memaksakan seorang libertarian untuk menolak seluruh intervensi pemerintah sehingga dalam libertarianisme atau liberalisme-klasik sendiri kebijakan seperti negative-income tax, universal basic income, school voucher terus diperdebatkan. Bagaimana pemerintah boleh hadir tidak pernah dipatokkan dalam libertarianisme secara jelas berbeda dengan sosialisme dan marxisme.

References :

Hayek, Friedrich August, and Bruce Caldwell, 2014, The Road to Serfdom: Text and Documents: The Definitive Edition. Routledge.
Frederic Bastiat. 2011. The Law. Eastford. USA : Martino Fine Books
Paul Wachtel. 1975, The Returns to Investment in Higher Education – Another View. Massachusetts : NBER
Tom G. Palmer. 2015, After The Welfare State. Jakarta : Youth Freedom Network
Milton Friedman. 1962. Capitalism And Freedom. Chicago : University of Chicago Press
Murray Rothbard. 1962. Man, Economy and State. Princeton : Van Nostrand

Educating for Diversity | Follow our social media @numbersacademy

(336)

Comments

comments