Numbers ID | Bebek atau Kelinci? – Filsafat Ilmu : Pemikiran Thomas Kuhn

Bebek atau Kelinci? – Filsafat Ilmu : Pemikiran Thomas Kuhn

Ditulis oleh Putri Maulida, S.Hum., Philosophy Contributor Numbers ID, Alumna Filsafat Universitas Indonesia.

Ketika memerhatikan gambar di atas secara seksama, pada umumnya kita akan mempertanyakan : “Apakah gambar tersebut adalah gambar seekor bebek atau kah seekor kelinci? “. Sebagian akan menjawab gambar tersebut adalah gambar seekor bebek dan sebagian lainnya menjawab gambar tersebut adalah gambar seekor kelinci dikarenakan dua perspektif yang berbeda. Lantas bagaimana filsafat menjawabnya?

Setelah kematian positivisme modern di tahun 1960-an, dua filsuf dalam bidang filsafat ilmu datang mendominasi pemikiran Anglo-Amerika, Karl Popper (1902-1994) dari Austria dan Thomas Kuhn (1922-1966) dari Amerika. Popper mempertahankan perspektif non-positivis namun evolusionis dan Kuhn menekankan pada revolusi. Buku Kuhn yang paling terkenal adalah The Structure of Scientific Revolutions (1962) yang membahas tentang konsep paradigma.

Paradigma menurut Kuhn digunakan dalam dua hal. Pertama, paradigma adalah suatu rangkaian kepercayaan, nilai, teknik, dan lainnya yang sama-sama diyakini oleh komunitasnya. Dan kedua yaitu satu elemen dari rangkaian, solusi puzzle yang menghadirkan model atau contoh, yang bisa menggantikan aturan eksplisit sebagai basis dari solusi untuk menyelesaikan puzzle dalam ilmu normal.

Pada konsep paradigma Kuhn, ada siklus perkembangan ilmu yang terjadi secara bergilir yaitu ilmu revolusioner dan ilmu normal.  Pada ilmu normal, paradigma bekerja sesuai kepentingan dan berkembang secara evolusioner. Sedangkan ilmu revolusioner, paradigma diganti dengan paradigma yang lain. Ilmu normal adalah proses rutin di mana ilmuwan bekerja dengan kerangka pikir teoritisnya atau disebut “paradigma”. Terkadang, anomali dan hal-hal yang tidak umum terjadi, tetapi hanya dianggap sebagai kesalahan dalam bagian-bagian yang menjadi fokus para ilmuwan. Hal itu menjadi bukti bahwa ilmu pengetahuan normal tidak memiliki kebaruan, yang terjadi adalah proses kumulatif yang mana ilmuwan mengaplikasikan teori yang sama pada masalah yang belum terselesaikan. Hal ini layaknya seperti permainan puzzle. Seiring waktu, anomali-anomali yang berlanjut mengalami akumulasi sehingga puncak krisis dicapai. Seiring dengan krisis tersebut, teori baru diciptakan dan terjadi pergeseran paradigma sehingga kerangka pikir yang baru menggantikan kerangka pikir yang lama. Kerangka pikir yang baru (ilmu revolusioner) digunakan untuk suatu kepentingan, dan ilmu normal terulang kembali sampai anomali-anomali selanjutnya mencapai puncak krisis.

Pada puncak krisis, terjadi inkomensurabilitas atau hal yang tidak dapat diperbandingkan antara paradigma-paradigma yang berseteru. Kata inkomensurabilitas adalah term pada matematika yang artinya ‘kurangnya ukuran yang sama’.  Kata ini diadopsi oleh Thomas Kuhn dan Paul Feyerabend yang menyatakan bahwa suksesnya suatu teori ilmiah tertentu seringkali tidak dapat diperbandingkan dengan teori ilmiah lainnya dan tak ada cara yang netral untuk mengkomparasikannya dalam menentukan mana yang lebih baik. Kuhn menyatakan bahwa apa yang dianggap sebagai bukti bergantung pada paradigma yang dipakai. Oleh karena itu, bagaimana bisa mengkompetisikan paradigma satu dengan yang lain secara rasional? Kuhn berpendapat tidak ada persetujuan yang lebih tinggi selain dari komunitas ilmiah itu sendiri dan pilihan dalam memilih paradigma yang berseteru tersebut adalah pilihan yang tidak dapat diperbandingkan.

Tidak berdasarkan pada bukti, melainkan psikologi dan faktor sosial lah  yang mendorong ilmu pengetahuan. Konfirmasi empirik dari suatu hipotesis merupakan retorika palsu. Hal ini membuat Kuhn dikaitkan dengan relativisme terhadap ilmu pengetahuan, yang mana kebenaran dari teori ilmiah sebagian atau seluruhnya dipengaruhi oleh dorongan sosial.  Kuhn menyampaikan pada bab terakhir  The Structure of  Scientific Revolutions bahwa pengetesan teori adalah perkara yang kompleks.  Ketika eksperimen berkonflik dengan teori ilmiah, logika semata tidak bisa menjelaskan mana yang menjadi kesalahan. Kuhn pun berkata bahwa “tampak bahwa elemen arbitrer menyatu dengan kejadian personal dan kejadian sejarah selalu merupakan komposisi formatif dari suatu keyakinan yang dianut oleh komunitas ilmiah pada waktunya”. Contoh pada relativisme epistemik yaitu baik teori biologi maupun teori fisika dapat dianggap sebagai pengetahuan, bergantung pada komunitas ilmuwan fisika dan ilmuwan biologi itu sendiri.

Ide dari dua paradigma yang tak dapat diperbandingkan ini di dukung oleh kepercayaan bahwa teori tidak lepas dari nilai dalam observasi. Segala observasi dipengaruhi oleh latar belakang teori. Hal ini terjadi pada revolusi Copernican. Ketika paradigma berubah, metode yang dipakai juga berbeda untuk mengetes suatu teori, dan begitu juga permasalahan yang harus diselesaikan pada ilmu pengetahuan. Seperti pendapat konstruktivis sosial, kita tidak bisa mengetahui  hakikat objek luar sama sekali. Begitu juga dengan Popper dan Kuhn, kita tidak akan bisa mengetahui  hakikat objek luar murni hanya dengan penerimaan pasif. Popper menyebut pandangan yang pasif ialah “bucket theory of mind”.  Maksudnya, Popper berpikir bahwa pikiran seharusnya tidak dilihat sebagai keranjang kosong tanpa ada usaha konstruktif dari diri sendiri dengan memasukkan berbagai konten dalam pikirannya. Pandangan Popper dan Kuhn adalah kita tidak pernah bisa melihat atau menerima objek luar tanpa memakai kacamata yang telah kita konstruksi sendiri. Seperti halnya apabila kita memakai kacamata yang mengkonstruksi objek yang kita lihat. Begitu juga dalam filsalafat ilmu, baik secara tidak sadar maupun sadar ilmu di konstruksi oleh berbagai macam konsep dan kerangka pikiran. Di luar ilmu, aparatus kognitif membuat konstruksi secara keseluruhan tanpa kita sadari. evaluasi suatu teori bergantung pada kondisi sejarah pada saat itu, dan analisanya terhadap hubungan teori dan observasi yaitu teori mempengaruhi data sehingga tidak ada yang namanya observasi yang netral atau objektif dan bebas dari interpretasi. Hal ini dibuktikan pada ilustrasi gambar “Bebek atau Kelinci?” di atas.

Sebagian orang akan mengira bahwa gambar tersebut adalah gambar kelinci, sedangkan yang lainnya mengira bahwa itu adalah gambar bebek. Persepsi yang berbeda pada objek yang sama tersebut dipengaruhi pada pengalaman dan konsep yang kita pakai. Sehingga, derajat konfirmasi terhadap eksperimen bukanlah hal yang objektif dan tidak ada satu logika pun yang bisa menentukan teori mana yang paling terjustifikasi berdasarkan bukti. Kuhn berpikir bahwa nilailah yang akhirnya nanti menentukan hal ini, yang mana nilai ini nanti akan ditentukan juga oleh komunitas ilmiah itu sendiri. Sehingga justifikasi ini ditentukan oleh nilai yang dianut oleh komunitas ilmiah

Pandangan konstruktif ini membawa masalah epistemologi. Pertanyaan yang muncul ialah apakah objek luar bisa diobservasi tanpa memakai kacamata atau manusia selalu bergantung pada kacamata? Apabila kita melihat sejarah penemuan teleskop dan mikroskop pertama dalam ilmu pengetahuan, ilusi optikal yang diciptakan oleh alat tersebut menimbulkan masalah. Sehingga asumsi Popper dan Kuhn ialah kacamata yang dilepas akan selalu tergantikan dengan kacamata yang baru. Dengan kata lain, tidak ada penglihatan langsung terhadap objek luar secara epistemologis.

Pada inkomensurabilitas, ada meaning incommensurability dan reference incommensurability. Pada meaning incommensurability, konsep dan teori ilmiah satu dan yang lain tidak bisa ditranslasikan.  Term ilmiah memiliki makna tersendiri berdasarkan teori yang menyertainya. Seperti pada kata ‘massa’ dalam teori Newton dan teori Einstein memiliki makna berbeda. Oleh karena itu, term ilmiah tidak memiliki makna dan arti yang jelas dan pasti. Pada reference incommensurability, term ilmiah yang sama bisa saja merujuk pada dua hal yang berbeda. Misal term ‘atom’ dideterminasi arti dan rujukannya oleh teori yang menyertainya. Apabila ada teori lain yang membahas tentang ‘atom’ juga, maka term tersebut merujuk pada hal yang berbeda pula tergantung teorinya. Oleh karena itu, tidak hanya satu cara dalam memahami dunia dan dunia yang kita hidupi bagaikan artefak dari teori-teori yang kita buat tentangnya. Kuhn menyebutkan “ketika paradigma berubah, dunia juga berubah”.  Perbedaan bahasa dengan perbedaan teori berkorespondensi dengan dunia yang berbeda. Setiap paradigma menempati dunia yang berbeda.

Antar paradigma mempunyai tiga level perbedaan:

1) Variasi atau perbedaan pada metodologi. Paradigma menekankan cara menyelesaikan masalah yang berbeda dengan standarnya masing-masing

2) Level semantik. Variasi atau perbedaan konsep yang membuat makna atau arti tersendiri dari suatu term

3) Teori yang digunakan dalam observasi. Setiap ilmuwan dalam mengobservasi suatu objek tidak lepas dari teori yang ia pakai

Pada buku The Structure of Scientfic Revolutions, Kuhn menyampaikan bahwa sejarah tentang ilmu mengalami distorsi dan simplifikasi dari kejadian yang sebenarnya lebih kompleks seperti halnya pada sejarah perkembangan dan perubahan teori. Ia menganalogikan hal tersebut seperti halnya buku panduan wisata yang memuat tempat-tempat yang menarik untuk dikunjungi, dan mengabaikan tempat-tempat atau hal yang buruk terjadi pada suatu negara. Walau cerita mengenai revolusi ilmiah diagung-agungkan sebagai kejayaan nalar dan eksperimen terhadap takhayul dan mitos, Kuhn berpendapat bahwa “jika kepercayaan yang telah usang ini akan disebut sebagai mitos, maka selanjutnya ada produksi mitos-mitos baru yang terjadi dengan metode dan alasan yang merujuk pada pengetahuan ilmiah”.  Kuhn menekankan bahwa teori dan kepercayaan lama lantas tidak bisa diabaikan begitu saja dan diklaim sebagai hal yang tidak ilmiah. Ia berpendapat bahwa perkembangan ilmu pengetahuan tidak terjadi secara kumulatif, melainkan terjadi pengabaian terhadap teori-teori terdahulu yang mana sama saja bahwa tidak ada demarkasi yang jelas antara teori ilmiah dan sistem teori atau kepercayaan lainnya.

Melanjutkan metafora kacamata, satu perbedaan antara Popper dan Kuhn ialah Popper berpikir bahwa mudah untuk mengganti kacamata, sedangkan Kuhn berpikir bahwa kacamata yang sudah tua sangat tidak memungkinkan untuk dilepas. Revolusi ilmiah dimungkinkan karena ilmuwan yang sudah tua harus pensiun dan ilmuwan muda menggantinya dengan kacamata yang baru dengan menempati posisi ilmuwan tua tersebut. Perbedaan antara Popper dan Kuhn ini merefleksikan perbedaan pandangan akan bahasa. Kuhn mempunyai pandangan yang lebih holistik mengenai makna dibandingkan Popper, dan ia berpikir bahwa pola makna adalah esensi fenomena sosial. Popper memberikan impresi bahwa lebih mudah mempercayai konten semantik baru yang berarti membuat hipotesis baru, sedangkan Kuhn berpikir bahwa hal tersebut tidak bisa selagi konsep baru haruslah koheren dengan aparatus pemikiran konseptual ilmuwan, dan juga harus koheren secara sosial dengan komunitas ilmiah.

Menurut Kuhn usaha falsifikasi tidak cukup untuk membuat ilmuwan mempertanyakan ulang fondasi dari suatu teori dan mengabaikannya. Ilmuwan seringkali tetap bertahan pada teori yang ia yakini dan bahkan dengan berbagai cara mempertahankan teori tersebut dari kritikan-kritikan yang ada. Jika suatu paradigma sukses dan ilmuwan bisa melakukan progres dalam menyelesaikan masalah dan meluaskan aplikasi empiriknya, maka ilmuwan akan berpikir bahwa menjawab permasalahan anomali hanya masalah waktu dan akan terselesaikan pada akhirnya. Para ilmuwan tidak akan menyerah pada paradigmanya begitu saja hanya karena paradigma tersebut berkonflik dengan bukti yang ada. Jika suatu paradigma sukses sebelumnya bahkan pada anomali yang dahulu terjadi, maka masuk akal untuk berpikir bahwa yang dibutuhkan ilmuwan adalah waktu untuk menyelesaikan masalah anomali.

Namun, beberapa ilmuwan sadar akan anomali yang tidak kunjung hilang walau bagaimanapun usaha dan waktu yang dikerahkan. Ketika anomali berakumulasi, seringkali ilmuwan muda mulai mempertanyakan paradigma dan mencari alternatif lain. Jika seiring dengan penelitian terhadap paradigma alternatif sukses, maka semakin turun kepercayaan terhadap paradigma sebelumnya, dan semakin banyak ilmuwan yang fokus pada masalah anomali. Hal inilah yang disebut dengan krisis.

Krisis tidak sering terjadi karena ilmuwan sendiri jarang mempertanyakan paradigma yang ia percayai. Krisis biasa terjadi jika anomali menyerang fondasi dari paradigma atau anomali bertahan dalam jangka waktu yang cukup lama. Jika krisis terjadi dan paradigma baru diadopsi oleh komunitas ilmiah, maka revolusi ilmiah atau pergantian paradigma telah terjadi. Revolusi ilmiah membuat ilmuwan mempunyai cara pandang baru dalam melihat dunia dan melihat masalah-masalah baru yang perlu diselesaikan, sedangkan masalah yang lama dilupakan karena tidak relevan dengan paradigma baru.

Penentuan dari diterima atau tidaknya suatu paradigma tidak hanya ditentukan oleh nilai yang dianut oleh komunitas ilmiah, tetapi juga faktor psikologis dan sosial dalam komunitas ilmiah. Seorang profesor lebih mempunyai kebebasan dalam melakukan berbagai hal seperti penelitian ataupun spekulasi dibanding ilmuwan yang masih muda dan belum menyandang gelar tersebut. selain itu, setiap ilmuwan dipengaruhi oleh orang-orang yang berbeda pula sehingga mempengaruhi cara pandang mereka dalam melihat dunia. Menurut Kuhn, ilmu pengetahuan harus dilihat dari konteks sosial dan historisnya, yang mana perubahan pada ilmu pengetahuan tak bisa dipahami tanpa memperhatikan aspek sosialnya.

Dari penjelasan tersebut, bukan berarti Kuhn tidak memberikan ruang pada rasionalitas dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan tidak mengizinkan adanya komparasi teori yang berbeda paradigma. Ia berpendapat ada lima nilai yang berlaku pada semua paradigma:

1) Teori harus akurat secara empiris dalam domainnya

2) Teori harus konsisten dengan teori lain yang diterima

3) Teori harus memiliki ruang yang besar dan tidak hanya mengakomodasi fakta yang akan dijelaskan

4) Teori harus sesimpel mungkin

5) Teori harus membuahkan hasil dalam rangka memberikan kerangka pikir untuk penelitian selanjutnya.

Oleh karena itu, Kuhn menolak irasionalisme total karena nilai-nilai tersebut membatasi ilmuwan dalam menentukan teori mana yang secara ilmiah bisa diterima. Di lain pihak, nilai-nilai tersebut tidaklah hirarki dan tidak mencukupi untuk menentukan teori mana yang akan dipilih karena pada beberapa kasus antar nilai bisa mengalami konflik. Suatu teori bisa saja simpel tapi tidak akurat, memiliki hasil tetapi tidak mempunyai ruang yang besar, dan lainnya. Lebih jauh, kesimpelan suatu teori dapat dipahami secara berbeda-berbeda.

References :

Kuhn, Thomas. (1996). The Structure of Scientific Revolutions. Chicago: Chicago University Press
Ladyman, James. (2002). Understanding Philosophy of Science. London: Routledge
Sarkar, Sahotra dan Jessica Pfeifer. (2006). The Philosophy of Science: An Encyclopedia. USA: Routledge
Johansson, Ingvar dan Niels Lynoe. (2008). Medicine & Philosophy. Jerman: Ontos Verlag
Plato Stanford – Thomas Kuhn

Educating for Diversity | Follow our social media @numbersacademy

(950)

Comments

comments