Numbers ID | Politics of Difference

Politics of Difference

Ditulis oleh Puri Rahayu Arinta, Ilmu Filsafat UI 2014

Permasalahan dalam sosial terkait dengan struktur keadilan yang merupakan imbas dari adanya sebuah sistem politik memang menjadi permasalahan yang di perdebatkan hingga sekarang. Permasalahan ini menyangkut bagaimana sebuah sistem yang ideal sesungguhnya mampu menaungi masyarakat di dalamnya, faktanya masih terdapat satu atau dua permasalahan yang bernaung di bawah sistem yang berjalan tersebut.

Permasalahan lebih khusus hal ini menyangkut dalam sistem politics of difference yang menyandarkan sebuah sistem pada perbedaan dalam sosial. Sebagai sebuah pendekatan sosial pada tahun 1980an, politics of difference merupakan sebuah prinsip yang menerima setiap perbedaan sehingga masuk di dalamnya klaim-klaim feminist, gay, anti-racist, dan gay liberation activist yang selama ini terjadi adanya ketimpangan struktural pada gender, race, dan sexuality.

Politics of difference sendiri merupakan sebuah cara yang harusnya mampu untuk menerima perbedaan dalam demokrasi. Sebagai sebuah sistem yang cukup baik dalam tataran pemikiran, namun praktiknya hal ini juga tak luput dari permasalahan, politics of difference ini juga dapat menghasilkan keputusan politik yang terdapat unsur ketidakadilan di dalamnya, Permasalahan muncul karena tidak pahamnya sosial atas perbedaan yang ada, sehingga perbedaan dianggap sebagai sebuah hal yang harus di bersihkan. Bukan perkara demikian, namun Politics of difference memberikan kita angin untuk hidup bersama dalam masyarakat yang plural berbagai latarbelakang budaya, ras, agama dan lain sebagainya. Namun memang

Permasalahan itu muncul tak lain karena masih tidak pahamnya masyarakat sendiri atas kesepahaman sistem ini, sehingga terjadi gap-gap yang nyata, yang menjadikan jarak diantara mereka, bahkan terjadi sebuah putusan yang di lahirkan dari tindakan rasis misalnya. Ketidaksepahaman masyarakat akan sebuah sistem ini berakibat terjadinya selain intoleran juga ketidakadilan terhadap minoritas, hal ini banyak kita jumpai kasusnya katakanlah negara sebesar dan semaju Amerika serikat, di dalamnya permasalahan multikultural masih menjadi permasalahan yang tidak berhenti hingga sekarang, data statistik polisi Federal Amerika (FBI) mencatat kenaikan angka kejahatan yang berbasis pada rasial di negara paman Sam ini, dalam laporan terakhir yang di rilis FBI, pada tahun 2006 diumumkan terjadi sekitar 7722 kasus tindak kejahatan, angka ini terus bertambah hingga sekarang. Hal ini tentunya sangat di sayangkan terkait pandangan dunia yang melihat bahwa Amerika adalah negara yang sangat maju demokrasinya, kebebasan tentunya juga harusnya bernaung di dalamnya.

Politics of Difference sesungguhnya menjadi sebuah sistem politik yang cukup ideal karena mengasumsikan toleransi di dalamnya, kebebasan menjadi dasar dalam perwujudannya, sehingga perbedaan disini merupakan syarat terjadinya sebuah politik ini. Sebagai paradigma yang dominan maka politics of difference mendasarkan promosinya atas justice and equality, sehingga saling menghormati antar kebudayaan dan latar belakang berjalan bersama dalam sosial, termasuk di dalamnya dia mengasumsikan bahwa sistem ini merupakan sistem yang no discrimination. Karena hal ini juga terinspirasi dari konsep John Rawls yaitu prinsip evaluation and distribution lebih khusus sistem distribusi yang di maksudkan ialah menganggarkan semua orang berdasarkan segala latar belakangnya masuk kedalam, artinya tidak ada diskriminasi yang terjadi dengan tidak memasukkan semua kategori kedalamnya, semua manusia dengan segala latar belakang, identitas, etnis yang di bawa dapat masuk kedalam sistem ini mempunya akses dan kesempatan yang sama. Sehingga apa yang tergambarkan dalam social justice mengandung makna pengabaian (pengabaian positif) pada gender, racial, sexual difference, dll.

Sistem politik yang luas dan bebas ini menerapkan terjadinya persamaan prinsip dengan cara yang sama pula, sehingga identitas atas culture dapat di pahami secara damai bersama. Dalam menganalisa lebih lanjut terkait politics of difference ini kita dapat melihat dari sudut pandang Iris M Young, menurut analisanya bahwa demokrasi liberal cenderung mengabaikan unikum dari setiap grup sosial dalam ranah publik, dalam hal ini nampak bahwa sistem yang berlandas pada freedom ternyata mengabaikan unikum dalam cakupan tindakannya, sehingga yang menjadi permasalahan kemudian adalah telah terjadinya dominasi yang bekerja di dalamnya. Dapat dibayangkan politik perbedaan disini layaknya ruang kosong, yang artinya siapapun dapat masuk mengisi kekosongan tersebut, sehingga dibayangkan dalam sistem politik ini semua orang dapat mengisi memiliki kesempatan yang sama untuk bersuara sehingga keadilan dan kesetaraan dapat di raih di dalamnya. Sehingga perwujudanya politics of difference ini merangkul keberagaman individu menjadi satu sosial yang baik. Namun yang kita dapati dalam praktik yang nyata dimana satu kelompok yang besar menaungi seluruh keberagaman yang terjadi (dominasi), sehingga minoritas tidak terdengar suaranya bahkan terjadi penindasan di dalamnya. Sehingga dalam menanggapi hal ini Iris menyatakan :

The structural inequality and societal culture approaches to a politics of difference share some commitments, and their arguments are compatible in many contexts. Both models raise important issues and proponents of each offer good arguments for public and private ractices to pay attention to group difference for the sake of justice.” (Thomas Christiano, 2009, hal. 363) bahwa peristiwa ketimpangan sosial dan budaya dalam masyarakat dengan pendekatan sebuah politik perbedaan (politics of difference) harusnya mensyaratkan share commitment yakni misalnya sama-sama berbagi kesepahaman atas apa yang menjadi dasar untuk mereka berjalan bersama, saling menyadari perbedaan ini tentunya, dengan sebuah perbedaan ini mereka harusnya dapat menerima dan bersosial bersama, sehingga apa yang di tampilkan dalam publik adalah apa yang baik bagi bersama sehingga untuk urusan privasi terkait dengan latar belakang dan indentitas masing masing individu dikerjakan secara pribadi tanpa menyinggung urusan bersama demi terciptanya keadilan dan setiap urusan kelompok mendapat perhatian sendiri.

Ideal nya sistem ini mungkin menjadi obat yang mampu untuk mengatasi ketegangan dalam Indonesia, banyak permasalahan dan perpecahan akhir ini di karenakan sebuah “perbedaan”. Hal ini tentunya menjadi perhatian bersama bahwa seharusnya perbedaan bukan menjadi masalah yang besar, karena pada prinsipnya kita hidup bersama terlahir dengan tanpa memilih identitas apa untuk kehidupan kita, namun sosial sudah mengkontruksinya dan membaginya menjadi kategori ras dan gender yang berbeda. Namun secara nature kita adalah entitas human being yang sama, bahwa perbedaan yang ada hanyalah pelengkap yang bukan berarti keseluruhan makna atas diri kita. Jika saja masyarakat mampu menyadari hal ini maka, perbedaan bukan lagi menjadi masalah, dengan berfikir demikian maka harusnya kita menghilangkan kategori yang mengkotak-kotakkan tersebut, bahwa dalam hidup bersama dengan sosial yang memiliki latarbelakang berbeda maka sistem politics of difference ini memberikan kita kemungkinan hidup bersama dengan tanpa mempermasalahkan perbedaan, melainkan perbedaan menjadi syarat hidup bersama dengan begitu kita dapat saling memahami dan memperbaiki.

References :

Thomas Christiano, J. C. (2009). POLITICAL PHILOSOPHY. USA: Wiley Blackwell.
Young, I. M. (1990). Justice and The Politics of Difference. UK: Princeton University Press.

Educating for Diversity | Follow our social media @numbersacademy

(87)

Comments

comments