Numbers ID | News Illusion : Sumber Penyebaran HOAX

News Illusion : Sumber Penyebaran HOAX

Ditulis oleh Muhammad Musfi Ramdhani, Mahasiswa Filsafat Universitas Indonesia

Telah menjadi fakta terlepas dari interpretasi benar atau salah bahwa berita hoax telah menjadi konsumsi keseharian masyarakat. Khususnya dengat pesatnya perkembangan teknologi dan infromasi yang memungkinkan informasi dapat didapat dengan begitu cepat. Ibarat cara kerja neuron dalam otak atau syaraf pada tubuh yang begitu cepat merespon dalam waktu yang begitu cepat. Informasi-informasi yang mengalir dengar begitu deras yang kita sebut dengan berita, yang kita dapat dari berbagai media, khususnya internet. Pertanyaannya adalah bagaimana kita menyaring rentetan serangan-serangan berita tersebut. Begitu cepat, mendadak dan serempak. Mampukah kita memilah informasi yang dapat dipertanggung jawabkan atau mungkin yang lebih menarik ditanyakan adalah yang “berguna” bagi kita?
Rolf Dobelli (2013: 301) menyatakan hal yang menarik “Apakah Anda benar-benar membutuhkan untuk tahu semua hal tersebut (maksudnya berita)? Kita (membaca) begitu banyak informasi namun begitu sedikitnya yang kita ketahui. Kenapa? Karena 2 abad yang lalu, kita dimasuki racun berbentuk pengetahuan yang disebut ‘berita’. Berita bagi pikiran seperti halnya gula bagi tubuh: (membuat) berselara, mudah dicerna – dan begitu merusak dalam jangka waktu yang panjang.” Menariknya Dobelli menyebut berita sebagai racun yang tentunya merujuk pada sesuatu yang membahayakan, merusak, dan tidak pada konteks positif. Berita yang dimaksud Dobelli adalah berita liar, yang kita dapatkan dari berbagai sumber, koran, internet, majalah, dsb (yang sulit untuk dipertanggung jawabkan).

Dobelli (2013: 302-303) mengemukakan bahwa ada 3 alasan mengapa kita harus keluar dari arus berita liar tersebut: Pertama, otak kita memberi reaksi tidak sebanding dengan jenis-jenis berita yang (begitu) berbeda. Kedua, berita-berita tidaklah relevan. Ketiga, membaca berita menyita begitu banyak waktu. Berita-berita yang hilir mudik kita temui, begitu banyak dan tidak terkontrol. Tentunya otak akan sulit untuk mengikuti kecepatan tersebut. Berita-berita yang memang memiliki jenis-jenis yang berbeda tentu membuat seolah berita yang satu dengan yang lain tidak relevan, bertabrakan dan sebagainya (sering kali membingungkan). Dan yang terpenting kita sering kali menghabiskan waktu begitu banyak hanya untuk membaca berita yang sering kali sesungguhnya tidak benar-benar kita butuhkan.

Pertanyaannya, dengan semua fakta tersebut kenapa kita tetap membaca berita? Jawabannya adalah manusia butuh sesuatu untuk dipegang, dipercaya, atau setidaknya memiliki sesuatu untuk dimiliki. Sejarahnya telah memperlihatkan bagaimana manusia sebagai homo quarens, memiliki rasa kuriositas (ingin tahu) yang tinggi. Sehingga ingin mengetahui sesuatu meskipun pada dasarnya tidak begitu dibutuhkan namun akan tetap dicari dan dipercaya.

Pada hal tersebut dapat kita lihat bahwa sebenarnya kita tidak “butuh” berita melainkan rasa “butuh” itu kita hadirkan. “Butuh” tidak melekat pada berita tapi pada psikologis sang pembaca berita, mengapa demikian? jawabannya ada pada authority bias (salah satu bias dalam berpikir yang membenarkan otoritas)! Kita melihat bahwa sumber berita adalah koran ternama, tokoh ternama, pemerintah, dan dsb. Semua itu adalah otoritas, mereka yang dikatakan berwenang. Pikiran kita memiliki kecenderungan untuk mengikuti otoritas, pihak yang berkuasa, yang disebut oleh filsuf Jerman Friedrich Nietzsche sebagai mental budak, mental gerombolan, pengikut yang berkuasa.

Dalam kacamata logika Darwinian, kita dapat mengetahui jawabannya mengapa demikian. Dalam evolusi yang berlangsung selama jutaan tahun, manusia dan makhluk hidup lainnya senantiasa berubah dan berusaha untuk bertahan. Untuk memperbesar peluang untuk bertahan hidup, sehingga manusia dan banyak makhluk hidup lainnya hidup dalam kelompok dan menunjuk pemimpin kelompok. Pemimpin kelompok (yang tentunya sebagai pihak yang memiliki otoritas) dipatuhi, diikuti dan dijadikan pedoman. Ternyata sifat ini sampai saat ini masih berlangsung karena memang terbukti mampu meloloskan manusia dan makhluk hidup lainnya dalam seleksi alam. Sehingga keinginan kita untuk mendapatkan begitu banyak berita yang sebenarnya tidak benar-benar kita butuhkan dan mempercayainya adalah karena dalam alam bawah sadar adanya keinginan untuk ingin bersama kelompok (tentu kita ketahui bahwa membaca berita dan update informasi adalah keseharian hampir seluruh penduduk dunia) dan mengikuti otoritas sumber berita.

Tidak heran karena kurangnya saringan dalam menghadapi serangan-serangan berita terdapat pihak yang membuat hoax atau berita tidak benar (bohong). Menariknya, banyak dari kita yang menikmati hoax ini, dengan dijadikan bahan untuk bergosip dan berkumpul bersama teman, keluarga, dan lainnya. melihat barangnya (hoax) dikonsumsi, tentu membuat hoax menjadi semakin subur bahkan menjadi komoditi. Pertanyaannya tentu bagaimana keluar dari hal tersebut? Dobelli memberi jawaban yang cukup mengejutkan, “jangan baca berita!” Bagi Dobelli tidak ada yang dapat mengalahkan buku atau artikel ilmiah dalam memahami dunia, sehingga informasi yang kita dapatkan benar-benar memang kita butuhkan, bertanggung jawab dan tidak menjadi racun dalam pikiran.

References :

Dawkins, Richard. (2012). God Delusion. Terjemahan: Zaim Rofiqi. Jakarta: Banana.
Dobell, Rolf. (2013). The Art of Thinking Clearly. London: Sceptre.
Sudarminta, J. (2002). Epistemologi Dasar: Pengantar Filsafat Pengetahuan. Jakarta: Kanisius.
Wibowo, A. Setyo, dkk. (2009). Para Pembunuh Tuhan. Yogyakarta: Kanisius.
Wijayanto, Eko, dkk. (2009). Ayat-Ayat Evolusi. Yogyakarta: Kanisius.
Wijayanto, Eko. (2013). Memetics: Perspektif Evolusi Membaca Kebudayaan. Depok: Kepik.

Educating for Diversity | Follow our social media @numbersacademy

(158)

Comments

comments