Numbers ID | Istana Berhentilah Menyebarkan Hoax!

Istana Berhentilah Menyebarkan Hoax!

Ditulis Oleh Vincent Ricardo, Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Founder & CEO Numbers ID

Bulan lalu, seorang dosen filsafat Universitas Indonesia, Rocky Gerung membuat statement jika penguasa adalah pembuat hoax terbaik. Semula saya cukup skeptis dengan pernyataannya beliau dikarenakan pernyataan tersebut dilontarkan di saat-saat menjelang pemilihan kepala daerah DKI Jakarta. Saat itu pula saya tidak mengambil posisi atas pernyataan Rocky Gerung. Pernyataan tersebut memang ada benarnya sebab penguasa memiliki segalanya, baik dari intelijen, data dan alat pendukung lainnya. Penguasa sebagai pembuat hoax terbaik pernah diceritakan dalam sebuah novel distopia terbaik menurut saya yaitu 1984 yang ditulis oleh George Orwell. Di novel tersebut digambarkan bagaimana Big Brother menggunakan kekuasaannya untuk menentukan apa yang baik, apa yang benar dan apa yang salah melalui Kementrian Kebenaran. Seluruh aspek dari kehidupan masyarakat diatur menggunakan standar kebenaran yang dibuat oleh penguasa yakni Big Brother, bahkan pikiran pun dilarang!

Pikiran saya mulai mengafirmasi pernyataan Rocky Gerung mengenai hoax dimulai dari pidato Jokowi pada Pengukuhan Pengurus DPP Partai Hanura di Bogor, Jawa Barat yang menyatakan demokrasi kita sudah kebablasan serta menyelaraskan ideologi liberalisme dengan radikalisme, sektarianisme, fundamentalisme dan bahkan terorisme. Bagi saya, ini adalah sebuah hoax yang sangat jelas dan dinyatakan secara gamblang.

Liberalisme adalah sebuah ideologi yang menjunjung tinggi dan menghormati kebebasan tiap-tiap individu untuk memilih jalan hidupnya. Liberalisme bukanlah sebuah ideologi yang liar dan tanpa arah, ini adalah sebuah miskonsepsi yang paling sering diucapkan oleh orang-orang yang buta akan ideologi. Liberalisme sendiri mendukung penuh dibuatnya sebuah peraturan untuk mengatur kehidupan masyarakat yang dikenal dengan rule of law. Ini merupakan sebuah reaksi atas kesewenang-wenangan pemerintah di masa lalu yang bahkan pada zaman sebelum revolusi Prancis, para raja-raja menganggap bahwa dirinya merupakan manifestasi negara yang menciptakan undang-undang (l’etat cest moi) sehingga apa yang dikatakan raja adalah undang-undang. Saya tidak mengerti mengapa Jokowi bisa menyampaikan statemen seperti itu, padahal bukan rahasia umum Sri Mulyani yang saat ini masih menjabat sebagai mentri keuangan sendiri adalah seorang neo-liberal. Saya sendiri mengagumi kecerdasan Sri Mulyani.

Selain itu pernyataan Presiden Jokowi tersebut sangat disayangkan karena tidak pernah ada istilah demokrasi yang kebablasan. Demokrasi memang menciptakan keriuhan-keriuhan akibat diperbolehkannya seluruh pihak untuk menyampaikan aspirasinya baik secara rasional maupun irasional. Tetapi dari keriuhan-keriuhan tersebutlah muncul gagasan-gagasan yang mendorong perkembangan pemikiran zaman dikarenakan adanya dialektika di ruang publik yang menciptakan force of the better argument.

Presiden Jokowi sendiri sudah terlalu banyak membuat kesalahan-kesalahan fatal seperti pernyataan perang terhadap narkoba seolah-olah mengulangi kesalahan yang sama dari mantan presiden Amerika Serikat, Richard Nixon yang bukannya malah berhasil menekan penderan narkoba, tetapi malah menciptakan permasalahan-permasalahan baru seperti munculnya kartel narkoba, meningkatnya kekerasan dan pelanggaran terhadap Hak Asasi Manusia. Jika kita lihat menggunakan pendekatan ekonomi, perang terhadap narkoba adalah tindakan sia-sia karena menekan peredaran narkoba di masyarakat tidak hanya dapat dilihat dari sisi penawaran tetapi harus dilihat dari sisi permintaan sebab narkoba adalah bentuk barang inelastis.

Di hari ini pula yang lebih menyedihkannya lagi, penguasa telah menerima seorang ahli pencipta Hoax dari luar negri yaitu Zakir Naik. Seorang penipu yang berhasil membodohi banyak orang di muka bumi. Baik dari pernyataannya bahwasanya homo sapiens (spesies manusia) telah punah, Sir Whitemeat dan banyak lagi. Padahal di India sendiri keberadaan Zakir Naik sudah mendapatkan kecaman dikarenakan kebohongan-kebohongan yang terus disampaikannya melalui media dakwah dan bahkan Zakir Naik pernah mensponsori seorang pria untuk mendukung ISIS di Suriah. Menakjubkan! Video berikut merupakan 25 kebohongan yang disampaikan oleh Zakir Naik dalam 5 menit.

Ketika anda membaca tulisan ini, mungkin beberapa dari kalian mempunyai asumsi jika tulisan ini ditulis dalam rangka kebutuhan kampanye. Tidak! Saya memiliki pandangan ekonomi dan politik yang berbeda dengan Rocky Gerung. Beliau condong menyetujui gagasan Rawls sedangkan saya condong berpihak pada gagasan Nozick. Akan tetapi setidaknya kami setuju dalam satu hal : Istana Berhentilah Menyebarkan Hoax!

Educating for Diversity | Follow our social media @numbersacademy

(593)

Comments

comments