Numbers ID | Skeptisisme terhadap Logika Aristoteles

Skeptisisme terhadap Logika Aristoteles

Oleh Muhammad Musfi Ramdhani

Sekitar 2 ribu tahun yang lalu, Aristoteles telah merumuskan tata cara berpikir yang disebut sebagai logika dalam organon (yang dapat diterjemahkan sebagai “alat”). Meskipun jauh sebelumnya tata cara berpikir memang sudah berkembang, namun Aristoteles yang pertama merumuskannya dalam tulisan yang sistematis. Logika Aristoteles ini berbentuk silogisme yang penarikan kesimpulannya berdasarkan pada premis mayor dan premis minor yang memiliki kelas lebih kecil dari premis mayor. Sebagai contoh, kita memiliki pandangan dasar bahwa semua benda dipengaruhi oleh gaya gravitasi, maka jika suatu benda terjatuh, niscaya kita akan mengambil kesimpulan pasti benda tersebut terjatuh ke bawah. Kesimpulan tersebut pada dasarnya berbentuk silogisme. Premis mayornya adalah “semua benda dipengaruhi oleh gaya gravitasi”, kemudian kelas yang lebih kecil atau premis minor “benda terjatuh”, dan berakhir pada kesimpulan yang ditarik dari 2 premis sebelumya “pasti benda tersebut terjatuh ke bawah.” Dalam silogisme ini membuat kita memiliki kerangka berpikir (yang tentunya mental) bergerak begitu cepat dan serempak, meskipun ada yang mengatakan bahwa kita dapat melakukan analisa yang membutuhkan waktu dalam berpikir (tidak bersifat refleks atau spontan), namun tetap saja kesimpulannya berdasarkan premis mayor dan minor.

Kita melihat dalam kerangka berpikir tersebut terdapat hierarki premis. Premis selain premis mayor niscaya kelasnya tidak boleh lebih besar dari premis mayor, dengan kata lain: hal ini menegaskan bahwa premis mayor harus menjadi fondasi dari penarikan kesimpulan. Jika penarikan kesimpulan tidak paralel dengan premis mayor maka kesimpulan tersebut tidaklah sahih atau tidak koheren. Contoh, semua benda pasti terpengaruh oleh gaya gravitasi (premis mayor), mangga tersebut matang dan terjatuh (premis minor), jadi pasti mangga tersebut melayang-layang di udara (kesimpulan). Silogisme tersebut tentu tidak sahih atau tidak koheren, dikarenakan tidak paralel dengan premis sebelumnya (khususnya premis mayor sebagai fondasi utama). Dengan demikian adalah sebuah ketidak logisan jika kesimpulan kita tidak disandarkan atau ditopang oleh premis mayor.

Dalam keterangan di atas terdapat 3 asumsi dasar yang menjadi doktin dalam berargumen yang bahkan menjadi sebuah kekeliruan, namun karena hal tersebut dibungkus dalam suatu hal yang konvensi dengan sebutan logika maka kita katakan itu benar (tepatnya sahih). Berikut akan dipaparkan asumsi-asumsi tersebut.

Pertama, silogisme mengandaikan sebuah kesimpulan niscaya bersifat paralel dengan premis sebelumnya (premis mayor). Sehingga ini menjadi doktrin tersendiri bahwa sesuatu harus bergerak secara paralel. Pengandaian ini berada pada ranah psikis, yang telah diungkapkan David Hume bahwa pengetahuan manusia lebih didominasi oleh perasaannya dari pada akal sehatnya. Kita cenderung lebih nyaman dengan mengandaikan bahwa sesuatu bergerak secara paralel atau lurus dari pada bergerak secara acak. Ketika kita mengatakan bahwa gravitasi bekerja pada semua benda, pernyataan tersebut adalah asumsi yang sebenarnya dipaksakan karena kita lebih nyaman dengan pengandaian tersebut. Mempercayai gravitasi akan terus terjadi jauh lebih nyaman dari pada mempercayai gravitasi tidak terjadi besok atau di masa depan. Bagaimana kita dapat membuat sebuah kesimpulan yang sahih apabila cara penarikan kesimpulan adalah asumsi yang dominan dikuasi oleh sangkaan atau perasaan? Asumsi penarikan kesimpulan tersebut menggunakan data masa lalu yang diandaikan terjadi di masa depan.

Kedua, silogisme yang kita buat seperti yang telah disebutkan di atas niscaya merujuk pada premis mayor, dengan kata lain premis mayor tidak dapat dipertanyakan. Hal ini adalah doktrin tersendiri, premis minor dan kesimpulan dapat dianggap tidak koheren dan tidak sahih namun bagaimana dengan premis mayor. Apakah kita akan terdiam dan mengangguk dengan premis mayor? Tentu tidak! Premis mayor pada dasarnya diambil dari impresi, yang kemudian membentuk simple idea dan akhirnya menjadi complex idea. Hal ini telah dijelaskan David Hume dengan begitu elegan. Apa yang kita ketahui hanyalah impresi atau yang sebut sebagai persentuhan indera yang sifatya paksaan dengan dunia eksternal. Apakah anda dapat memilih untuk merasakan bau, mendengar bunyi, melihat dan sebagainya? tentu tidak! Hal ini terjadi begtu cepat. Rentetan impresi-impresi tersebut dengan begitu cepat membentuk simple idea dan complex idea. Akhirnya kita akan menjumpai fondasi dari silogisme itu sendiri berada dalam pertanyaan yang serius. Bagaimana kita dapat membuat sebuah kesimpulan yang sahih apabila fondasi dari silogisme tidak dapat dengan pasti kita ketahui?

Ketiga, prinsip logika Aristoteles menggunakan prinsip non-kontradiksi (yakni dalam silogisme tidak boleh ada kontradiksi). Seperti dalam poin pertama, harus bergerak paralel atau lurus, sehingga dalam silogisme tidak boleh ada kontradiksi. Jika semua benda niscaya terpengaruh oleh gravitasi, maka tidak boleh ada pernyataan bahwa ada benda yang tidak terpengaruh oleh gravitasi. Prinsip non-kontradiksi terlihat jelas di sini. Jika diubah ke dalam bentuk simbol P ≠ ~P (P tidak sama dengan negasi P), jika premis mayor menyebut semua benda terpengaruh oleh gravitasi (P), maka tidak boleh mengatakan ada benda yang tidak terpengaruh oleh gravitasi (~P). Ini akan membuat silogisme tidak koheren yang tentunya tidak akan dapat memperoleh kesimpulan yang sahih. Prinsip non-kontradiksi logika Aristoteles pada dasarnya adalah logika biner, yang mengasumsikan bahwa kategori terbagi menjadi dua yakni “benar” dan “salah.” Sehingga segala pandangan terhadap sesuatu akan selalu terbagi menjadi dua. Prinsip ini meniadakan kelas “abu-abu” atau gradasai antar kategori. Tidak heran jika melihat suatu fenomena yakni benda yang tidak terpengaruh oleh gravitasi kita akan langsung mengatakan ini tidak rasional atau tidak masuk akal. Kita hanya memiliki dua kategori, rasional (sahih/benar) dan irasional (tidak sahih/tidak benar). Gradasi kategori luput dari pikiran kita karena mengandaikan bahwa suatu kategori terlepas seluruhnya dari kategori lainnya. Seperti halnya mengatakan orang gila, niscaya kita akan mengatakan orang gila jika tindak lakunya tidak seperti tindak laku orang kebanyakan, padahal terdapat gradasi kategori yakni batas gila dan waras tersebut pada dasarnya tidak diketahui secara pasti.

Ketiga kekeliruan tersebut bukannya membuat kita tidak dapat menggunakan logika Aristoteles namun sebagai bangunan penguat dalam penalaran bahwa logika tersendiri memiliki asumsi-asumsi yang sebenarnya tidak logis. Seperti pernyataan David Hume bahwa tidak ada hal yang sepenuhnya rasional. Al-Gazali dan David Hume menegaskan bahwa apa kita simpulkan hanya berdasarkan perkiraan, yakni hasil korespondensi antara apa yang tertangkap oleh indera dan ide-ide yang telah kita miliki. Sehingga begitu konyol jika kita dengan keras dan arogan memutlakkan kesimpulan yang kita buat. Kesimpulan tersebut hanyalah rentetan peristiwa yang teramati dan memang itulah yang tersedia sehingga saya katakan terpaksa kita gunakan. Popper yang memang mengutip Hume mengatakan bahwa kita tidak akan dapat memverifikasi apapun dengan pasti. Kesimpulan kita hanya bersifat probabilitas tertinggi dan bukannya the truth.

Harus diingat bahwa penggunaan logika dalam penarikan kesimpulan berguna agar pikiran menjadi lebih terarah dan sistematis, namun kita harus mengetahui bangunan dan konteks penggunaannya agar tidak terjebak dalam kesesatan yang justru berdasar dari aturan logika itu sendiri. Jangan kita buat logika menjadi mitos baru. Thinking clearly, please!

 

References :

Adian, Donny Gahrial. (2006). Percik Pemikiran Kontemporer: Sebuah Pengantar Komprehensif. Bandung: Jalasutra.

Al-Gazali. (2015). Kerancauan Filsafat (Tahafut Al-Falasifah). Terjemahan Achmad Maimun. Yogyakarta: Forum.

Hadinata, Fristian. (2009). Skripsi: Ketidakpastian dan Limitasi sebagai Epistemologi. Depok: Universitas Indonesia.

Hume, David. A Treatise of Human Understanding.

Lubis, Akhyar Yusuf. (2014). Filsafat Ilmu: Klasik Hingga Kontemporer. Jakarta: Rajawali Pers.

Poespowardojo, Soerjanto & Seran, Alexander. (2015). Hakikat Ilmu Pengetahuan, Kritik terhadap Visi Positivisme Logis, serta Implifikasinya. Jakarta: Kompas.

 

Educating for Diversity | Follow our social media @numbersacademy

(198)

Comments

comments