Numbers ID | Siapakah Manusia Terpelit Itu?

Siapakah Manusia Terpelit Itu?

Ditulis Oleh Lai Devin, Alumnus Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Economics Contributor Numbers ID

Ketika dihadapkan dengan pertanyaan seperti pada judul artikel ini, kira-kira apakah reaksi serta jawaban kalian? Orang Tionghoa? Orang Padang? Orang Yahudi? Tentu saja hal ini sangat mungkin diutarakan sebagai guyonan berdasarkan stereotip yang berkembang di khalayak masyarakat umum. Namun saya secara pribadi meragukan stereotip tersebut. Toh pada kenyataannya sekarang banyak orang-orang dengan keturunan campuran. Jikalau ada seorang teman anda berketurunan ½ Padang ½ Jawa, apakah dia akan memiliki tingkat kepelitan ½ dari orang berketurunan Padang? Apakah kemudian bila terdapat teman anda berdarah ¼ Tionghoa, ¼ Jawa, ¼ Arab, ¼ Belanda, bagaimanakah kadar kepelitannya? Saya sih tidak mau menghitungnya, hanya akan menghabiskan waktu dan pikiran saya saja. (ehem ini baru namanya indikasi pelit, hanya untuk contoh ya)

Lalu kemudian, siapakah manusia terpelit? Apakah manajer dan eksekutif perusahaan yang selalu berusaha mencari celah untuk meningkatkan keuntungan? Apakah akuntan yang tiap transaksi ekonominya selalu dicatat dua kali debet kredit? Bila pembaca mengira mereka terlihat pelit, anda belum menyadari seberapa pelit dan perhitungannya seorang ekonom.

Kenapa ekonom dibilang paling pelit?

Sebenarnya kembali lagi pada pernyataan saya di awal. Ini juga merupakan stereotip yang saya ciptakan untuk memberikan pengantar non-konvensional supaya kalian mau membaca artikel ini. Ya, jika kalian masih membaca sampai kalimat ini, terima kasih banyak ya, saya diam-diam akan tersenyum tersipu malu.

Dalam pengajaran ekonomi, sering kali kita dihadapkan dengan konsep keuntungan, cuan, biaya, ongkos, pendapatan, penerimaan, omzet, penjualan, sales, dan jargon-jargon lainnya yang sering kali terdengar keren dan kece padahal tidak demikian (duh). Kembali lagi, sebenarnya apa dasar pembelajaran ekonomi itu sendiri?

Ekonomi adalah studi yang mempelajari bagaimana pemanfaatan sumber daya (sumber daya alam, sumber daya manusia, uang, capital) yang berjumlah terbatas untuk memenuhi kebutuhan manusia yang cenderung tidak terbatas (aku ingin begini, aku ingin begitu, ingin ini ingin itu banyak sekali)

Secara mudahnya, untuk memenuhi kebutuhan kita tersebut (mendapatkan kepuasan atau lebih dikenal sebagai utility) maka kita diharuskan untuk mengorbankan apa yang kita miliki. Contohnya adalah ketika kita ingin memakan es krim, maka kita harus mengorbankan uang jajan kita untuk membelinya lalu memakannya. Contoh lainnya adalah ketika kita ingin bolos kuliah, maka kita harus mengorbankan waktu kuliah kita di kelas bersangkutan.

Bila dianalogikan, kepuasan memakan es krim adalah penerimaan; uang jajan yang kita keluarkan adalah biaya, sedangkan keuntungan adalah selisih diantara keduanya.

Bilamana kalian pernah atau bahkan kerap kali melihat laporan keuangan perusahaan, iseng membuka pembukuan perusahaan, maka apa yang kalian lihat adalah salah satu dari dua konsep keuntungan, yakni keuntungan akuntansi. Apakah ekonom akan puas menggunakan keuntungan akuntansi? Tidak, mereka pelit, mereka akan menggunakan konsep lainnya yang dinamakan keuntungan ekonomi.

Keuntungan terdiri dari dua, yakni keuntungan akuntansi dan keuntungan ekonomi, dimana…

 

Lalu, apa itu biaya eksplisit dan biaya implisit? Secara gamblangnya, biaya eksplisit adalah biaya yang benar-benar kita keluarkan untuk mendapatkan apa yang kita butuhkan, sementara biaya implisit atau biaya peluang adalah alternatif terbaik kedua (second best choice) yang tidak kita dapatkan ketika kita telah memilih alternatif lainnya. Perlu diingat bahwa jika terdapat lebih dari satu alternatif, maka yang dijadikan biaya implisit tetaplah alternatif terbaik (dengan nilai lebih tinggi) yang tidak dipilih. Pada kasus pembelian es krim dengan uang jajan, maka uang jajan yang kita bayar ke kasir merupakan biaya eksplisit, sementara alternatif dari mengonsumsi es krim yakni mengonsumsi es buah merupakan biaya implisit. Bila kita adakan perhitungan, maka

Berdasaran perhitungan tersebut, maka keuntungan yang akan diakui oleh akuntan(keuntungan akuntansi) tentu akan lebih besar bila dibandingkan dengan keuntungan ekonom (keuntungan ekonomi). Berdasarkan pemaparan saya ini, maka jangan heran bilamana kedepannya anda akan melihat seseorang yang keluar dari tempat perbelanjaan dengan wajah menggerutu. Terdapat dua kemungkinan: 1) dia menemani pacarnya belanja dan cukup annoyed atau 2) dia merupakan seorang ekonom yang memperhitungkan biaya implisit yang hanya ada di pikirannya (keluar dari dompet tidak, kebawa pikiran iya).

Educating for Diversity | Follow our social media @numbersacademy

(365)

Comments

comments