Numbers ID | Menyoal Pengetahuan Teknologis

Menyoal Pengetahuan Teknologis

Oleh Ahmad Hilda Fauzi, mahasiswa filsafat Universitas Indonesia, Philosophy Contributor Numbers.

Pendahuluan

Teknologi dalam istilah instrumentalis seringkali diidentikkan dengan hasil karya para engineer. Hal tersebut sejatinya menyimpan sebuah asumsi bahwa teknologi memiliki suatu bentuk relasi epistemik khas terhadap engineer. Apakah metode pengajaran yang dipakai oleh para engineer dalam pengembangan teknologi sama dengan metode yang biasa diterapkan oleh bidang ilmu (sains)?. Pertanyaan tersebut terkait dengan gagasan yang menyatakan bahwa teknologi secara epistemologis memiliki struktur pengetahuan yang berbeda dengan sains. Sehingga, para filsuf teknologi meyakini bahwa hal tersebut mampu menyingkap adanya perbedaan antara pola berpikir para saintis dengan para engineer. Pengetahuan memiliki peran penting dalam perkembangan suatu bentuk teknologi. Pembahasan mengenai pengetahuan sendiri merupakan ranah epistemologis yang berkutat pada analisis terhadap apa yang dapat disebut sebagai sebuah bentuk pengetahuan dan bagaimana pengetahuan itu diperoleh. Sederhananya, pengetahuan dapat didefinisikan sebagai suatu bentuk justifikasi terhadap keyakinan yang dianggap benar atau “justified true belief”. Pada artikel Sebelumnya, saya telah membahas bagaimana teknologi dapat dimaknai sebagai media penyibakan eksistensi diri yang saya analisis melalui perspektif Heideggerian. Pada kesempatan ini saya akan lebih berfokus pada aspek epistemiknya, apakah tepat klaim yang menyatakan bahwa pengetahuan teknologis adalah berbeda dengan pengetahuan sains? Lalu apa justifikasinya?.

Transfer dan Integrasi Pengetahuan

Teknologi dalam pengembangannya tidak hanya terikat pada persoalan kapasitas pengetahuan yang dimiliki oleh seorang engineer, tetapi juga mencakup persoalan tentang minat para user-nya, legislasi hukum yang mengizinkannya, serta finansial sebagai faktor vital dalam projek pengembangannya. Banyaknya aspek yang melekat pada satu term teknologi tersebut, menjadikan adanya perbedaan yang mencolok antara pengetahuan yang terdapat pada disiplin sains dengan pengetahuan yang terdapat pada teknologi. Sejatinya, pengetahuan teknologis juga dibangun dalam fondasi pengetahuan sains, seperti matematika, fisika, biologi dan lain-lain. Oleh karena itu, para engineer dalam prakteknya harus “meminjam” atau “mentransfer” pengetahuan dari disiplin ilmu sains dan mengintegrasikannya dengan pengetahuan yang mereka miliki.

Terdapat beberapa tingkatan dalam melakukan integrasi pengetahuan yang berasal dari berbagai macam disiplin ilmu. Hal tersebut dapat ditemukan dalam taksonomi yang dibuat oleh Margaret Boden, di mana ia mencoba melakukan identifikasi pada tingkat interdisipliner, diantaranya:

– Ensiklopedik : pada tahap ensiklopedik pengetahuan adanya keberagaman disiplin ilmu dimungkinkan, namun demikian para peneliti tidak diharuskan untuk menggunakannya. (Sebuah universitas bisa dikategorikan sebagai tahap dari pengetahuan ensiklopedik).
– Kontekstualisasi : di mana orang-orang mengambil beberapa pengetahuan dari disiplin ilmu lain yang diterapkan ke dalam metode pengajarannya, namun tidak digunakan untuk melakuakn penelitian kooperatif.
– Berbagi (shared) : tahap di mana orang-orang dari berbagai disiplin ilmu melakukan kerjasama dalam memecahkan satu permasalah kompleks pada suatu forum tertentu.
– Kooperatif : tahap di mana orang-orang dari lintas disiplin ilmu melakukan kerjasama secara aktif demi satu tujuan.
– Generalisasi : tahap di mana orang-orang dari berbagai disiplin menentukan satu bentuk perspektif teoritis umum yang nantinya mereka terapkan pada disiplin ilmu mereka masing-masing.
– Integrasi : tahap di mana konsep-konsep dan wawasan yang berasal dari suatu disiplin disumbangkan ke dalam satu pekerjaan yang dilakukan di dalam disiplin lain dan berlaku juga sebaliknya.

Tahapan-tahapan di atas merupakan satu bentuk gambaran tentang bagaimana persoalan integrasi pengetahuan sangat erat kaitannya dengan konsep epistemologi sosial. Selain itu, tahapan yang dibuat oleh Margaret Boden menunjukkan adanya permasalahan lain yang justru datang dari setiap disiplin ilmu. Suatu disiplin ilmu sampai sekarang tidak mampu mencapai definisi yang pasti atas disiplinnya sendiri. Pendefinisian ilmu dengan menggunakan teori dan objek kajiannya bahkan metode yang digunakannya dianggap belum mampu melahirkan batas distingtif antara satu cabang disiplin ilmu dengan disiplin ilmu lainnya. Oleh karena itu, pendekatan secara term sosial digunakan sebagai alternatif yang dianggap lebih mumpuni untuk menciptakan distingsi antar disiplin. Pembedaan itu sendiri tidak secara langsung ditujukan kepada disiplinnya melainkan pada individu atau komunitas yang terlibat di dalamnya, seperti para “ahli ekonom”, “departemen fisika” dll. Dari sinilah dapat dipastikan bahwa teknologi dalam prakteknya selalu membutuhkan proses integrasi pengetahuan antar disiplin sebagai sarana pelengkap pengetahuan engineer dalam tahap lanjutan.

Ajaran Pengetahuan Teknologis

Perbedaan antara pengetahuan ilmiah dengan pengetahuan teknologis sejatinya terdapat pada metode pengajaran yang digunakannya. Pertama-tama kita harus mengetahui bahwa tidak semua pengetahuan teknologis dapat disampaikan atau dipelajari melalui susunan proposi-proposisi (seperti: buku teks atau instruksi lisan). Oleh karena itu, untuk mendapatkan pengetahuan teknologis harus diadakan satu metode pengajaran yang berbeda dari biasanya, seperti metode “learning by doing” yang dianggap paling mumpuni untuk menghasilkan pengetahuan teknologis. Salah satu bentuk metode learning by doing dapat kita lihat dalam relasi antara master dengan apprentice-nya. Seorang master untuk mengajari muridnya suatu skill tertentu, dia akan mendemostrasikannya secara langsung dan memerintahkan muridnya tersebut untuk mengikuti setiap gerakan yang dilakukan masternya. Apabila terdapat kesalahan, Sang master pun akan langsung melakukan koreksi terhadap gerakan muridnya sampai ia betul-betul dianggap telah menguasai skill yang dimiliki oleh masternya tersebut, cara inilah yang setidaknya bagi para pemikir teknologi paling memungkinkan untuk menyalurkan pengetahuan teknologis. Secara sederhana mungkin dapat dikatakan bahwa pengetahuan teknologis merupakan praksis dan pengetahuan sains adalah ranah teoritis jika dilihat dari metode pembelajarannya. Namun demikian, pengetahuan teknologis sejatinya memiliki struktur yang lebih kompleks dibandingkan pengetahuan sains.

Melalui penjabaran metode pemerolehan pengetahuan teknologis di atas, dapat dilihat bahwa aspek normatif sangat intrinsik di dalam pengetahuan teknologis. Dalam artian bahwa karakteristik dari pengetahuan teknologis harus dilakukan melalui pembelajaran dan pengajaran  yang dalam prosesnya selalu dipengaruhi aspek penilaian subjektif seorang ahli. Seorang pelajar tidak hanya memperlajari persolan hardware atau properti-properti yang digunakan pada teknologi, tetapi juga harus memahami bagaimana suatu properti material dapat bekerja. Aspek normatif yang melekat pada pengetahuan teknologis tidak mengandung unsur etis secara langsung. Bagi seorang engineer ketika menilai “mobil ini bagus”, hal itu merupakan bentuk penilaian yang berdasar pada aspek fungsionalnya saja. Namun, ketika mobil tersebut dianggap memberikan dampak kerusakan bagi lingkungan, hal tersebut akan masuk pada tahapan evaluasi terhadap teknologi. Inilah alasan mengapa pengajar teknologi harus mempertimbangkan unsur-unsur etis dan mengimplementasikannya ke dalam metode pengajaran yang dilakukannya.

Pada akhirnya, pengetahuan teknologis baik dalam pengajaran ataupun pembelajarannya tidak lepas dari proses integrasi pengetahuan multidisipliner yang harus dilakukan oleh para engineer. Hal ini dikarenakan dalam teknologi, seorang engineer tidak hanya mempelajari pengetahuan teknis terkait dengan bidang teknologinya saja, tetapi engineer tersebut juga harus mempelajari aspek-aspek non-teknis seperti, aspek sosial, humanis, dan lingkungan yang pada akhirnya menjadi tujuan dari pada diciptakannya teknologi tersebut. Oleh karena itu, perlu ditekankan kembali akan pentingnya integrasi disiplin ilmu dalam satu paket pengajaran dan pembelajaran teknologi yang pada dasarnya tidak bisa dipelajari secara terpisah. Setiap proses dan pengetahuan yang diperlukan dalam penciptaan teknologi harus membentuk proses yang holistik, sehingga proses integrasi multidisipliner tersebut pun berada pada kondisi yang egaliter. Maksud dari kondisi egaliter adalah untuk menjelaskan bahwa pengetahuan teknologis adalah pengetahuan kompleks yang mempertimbangkan berbagai macam cabang disiplin ilmu, dan setiap dari disiplin ilmu merupakan komposisi penting dalam membangun struktur pengetahuan teknologis.

Educating for Diversity | Follow our social media @numbersacademy

(57)

Comments

comments