Numbers ID | Relasi Manusia dan Alam – Vandana Shiva

Relasi Manusia dan Alam – Vandana Shiva

Ditulis oleh Hanida Amalina, Mahasiswa Filsafat, Universitas Indonesia, Philosophy Contributor Numbers ID

Vandana Shiva adalah aktivis lingkungan, dan penulis anti-globalisasi India. Shiva yang saat ini tinggal di Delhi telah menulis lebih dari 20 buku. Ia telah banyak menulis mengenai relasi manusia dan alam yang seharusnya dijaga hingga saat ini. Sudut pandang ia melihat relasi manusia dan alam yaitu ekofeminisme. Vandana Shiva menyatukan pergerakan perempuan dengan gerakan lingkungan hidup. Menurutnya alam dan perempuan memiliki kesamaan. Hak-hak perempuan dan alam terampas dalam belenggu budaya patriarki. Perempuan dan alam seolah menjadi objek semata dalam patriarki. Patriarki adalah sebuah sistem sosial yang menempatkan laki-laki sebagai sosok otoritas utama yang sentral dalam lingkup sosial. Seperti contohnya, ayah memiliki otoritas terhadap perempuan, anak-anak, dan harta benda. Secara tersirat sistem ini memberikan hak-hak istimewa terhadap laki-laki dan menuntut subordinasi perempuan. Sistem ini telah membudaya dan seolah kedudukan laki-laki lebih tinggi dari perempuan. Begitu pula dengan alam, menurut Vandana Shiva posisi alam ini sama seperti perempuan yang tertindas. Penindasan ini dilakukan demi kepentingan manusia semata. Tidak memperhatikan keseimbangan yang seharusnya terjadi dari relasi manusia dengan alam. Pada intinya kesamaan perempuan dan alam ini memiliki relasi pararel dan tujuan dari pemikiran Vandana Shiva ini adalah untuk menghilangkan penindasan tersebut.

Vandana Shiva juga menjadi tokoh dalam Gerakan Chipko, yaitu gerakan yang dilakukan oleh para perempuan di India untuk mempertahankan lingkungan hidupnya. Para perempuan di India tersebut melekatkan diri mereka pada pohon agar tidak ditebang oleh para kontraktor. Gerakan oleh para perempuan ini menekankan ahimsa (anti-kekerasan) dan juga satya graha (kesetiaan pada tanah/rumah/tempat tinggal). Dari Gerakan Chipko tersebut, kita dapat memetik pemikiran Vandana Shiva mengenai relasi manusia dan alam yang seharusnya. Seharusnya kita dapat menjaga keseimbangan alam, menjaganya, merawatnya, bukan melakukan penindasan terhadap alam hanya untuk kepentingan kita semata. Bahkan menurut Vandana Shiva simbol kehidupan adalah “Benih”. Menunjukkan bahwa alam yang jelas menopang kehidupan manusia. Jika kita menindas alam, keseimbangan kehidupan kita akan terancam.

Vandana Shiva menulis lebih lanjut mengenai simbol kehidupan, yang menurutnya yaitu benih. Ia menolak Genetically Modified Organisms (rekayasa genetik), dan mendorong benih organik (cara hidup organik). Menurut Vandana Shiva terkait Biopiracy (pembajakan biologis), dia berkata bahwa; Biopiracy is biological theft, illegal collection of indigenous plants by corporations who patent them for their own use.

Fokus utama pada penulisan ini yaitu mengenai nature’s rights for biological diversity. Hak-hak seperti ini yang tidak diperhatikan manusia dalam menjalani kehidupan yang berdampingan bersama alam. Biarkanlah alam dengan keberagamannya, janganlah kita melakukan ekspliotasi terhadap alam, agar tidak terjadi ketidakseimbangan dalam kehidupan.

Vandana Shiva juga menggagas pemikiran agro ekologi yang bertentangan dengan agribisnis, karena dalam agribisnis alam dianggap sebagai properti. Namun, dalam agro ekologi justru alam sebagai “creator” dan manusia adalah “co-creator”, gagasan ini merupakan relasi yang seharusnya terjadi agar manusia dan alam tetap seimbang. Petani yang mengkultivasi tanah dengan cara yang benar, sesungguhnya mereka “membangun” kehidupan berdampingan bersama alam. Bukan dengan menganggap alam sebagai properti yang dapat dieksploitasi melalui pembajakan biologis dan mematenkannya untuk kepentingan suatu korporasi. Menurutnya tangan-tangan kapitalisme masih turut ikut serta dalam merusak keseimbangan alam dan oleh karena itu ia mendorong kita untuk melawan tindakan-tindakan kapitalisme yang dianggapnya merusak bumi tempat kehidupan kita berlangsung, perlawanan terhadap tindakan tersebut harus dilakukan demi menciptakan Earth Democracy sehingga relasi manusia dan alam dapat seimbang.

References :

Navdyanya

1986, Chipko: India’s Civilisational Response to the Forest Crisis, J. Bandopadhyay and Vandana Shiva, Indian National Trust for Art and Cultural Heritage. Pub. by INTACH

1987, The Chipko Movement Against Limestone Quarrying in Doon Valley, J. Bandopadhyay and Vandana Shiva, Lokayan Bulletin

Educating for Diversity | Follow our social media @numbersacademy

(77)

Comments

comments