Numbers ID | Realita Pendidikan di Asia

Realita Pendidikan di Asia

Ditulis Oleh Adam Syammas Zaki Purnomo, Mahasiswa Tohoku University. Contributor Numbers ID

Apa yang pertama kali muncul dalam benak anda ketika mendengar ‘sistem pendidikan di Asia’? Ya, Negara-negara di Asia terkenal sekali dengan tingkat kurikulum yang sulit, bersifat memaksa dan menantang (bagi yang suka tantangan). China, Jepang, India, Korea Selatan, Singapura dan bahkan Indonesia termasuk di dalamnya. Sistem pendidikan seperti ini mengharuskan siswa menguasai banyak mata pelajaran terutama di bidang sains serta menyajikan tingkat kesulitan soal yang bisa dibilang susah atau bahkan sangat susah.

Sistem pendidikan seperti ini tidak memberikan banyak pilihan kepada siswa sebagaimana di Eropa dan Amerika. Di dalam buku “ Who is afraid of the Big Bad Dragon? Why China Has the Best (Worst) Education System in the Word” dikatakan bahwa sistem pendidikan China sangat berorientasi pada ujian, menggunakan nilai ujian sebagai kriteria utama dalam evaluasi siswa yang disebut penulis sebagai pedagogi yang beracun, menghambat kreatifitas, menekan rasa penasaran dan individual, serta menyebabkan tingkat stress yang tinggi. Sistem pendidikan dengan model seperti ini banyak diterapkan di negara Asia seperti di Jepang, Korea Selatan, Singapura, India dan Indonesia.

Di Indonesia sendiri contoh kasus riil yang paling mudah adalah SBMPTN. Dimana siswa diharuskan untuk mengerjakan hampir semua mata pelajaran dalam hari yang sama, dan hasil tes tulis tersebut adalah satu-satunya kriteria yang dipertimbangankan apakah sang siswa tersebut diterima di Universitas atau tidak. Banyak orang yang mengkritik sistem pendidikan seperti ini karena seolah-olah kemampuan seseorang hanya ditentukan dari kemampuan kognitifnya melalui tes yang hanya dilakukan sekali kontras sekali dengan pendidikan di Amerika dan Eropa sebagai komparasi, dimana kreativitas, self expression, seni dan filosofi dijunjung tinggi.

Namun sebelum mengkritik habis-habisan saya mengajak anda untuk melihat dari sudut pandang lain dimana kita akan melihat realita yang terjadi . Hal pertama yang harus diperhatikan adalah bahwa populasi penduduk di Negara-negara Asia relatif banyak jika dibandingkan dengan eropa dan Amerika. Dengan jumlah penduduk yang banyak, evaluasi yang bersifat kuantitatif (dalam hal ini ujian) jauh lebih mudah dilaksanakan dan lebih efektif serta efisien dalam penggunaan waktu. Evaluasi kemampuan bersifat kualitatif (seperti essay, wawancara) cukup menyita waktu dan tidak memiliki batasan yang jelas karena penilaian tiap individu akan memiliki standar yang berbeda-beda.

Kebudayaan tak lepas memberikan kontribusi pada sistem pendidikan ini dimana di Asia timur, pendidikan merupakan hal yang dijunjung tinggi dan dimana pendidikan diangap merupakan satu-satunya cara untuk mengangkat martabat bangsa. Di Jepang sendiri setelah restorasi meiji, pendidikan memegang peranan penting dalam mengubah Jepang yang dari Negara agraris menjadi negara yang berbasis Industri. Human factor seperti pengetahuan dan talent yang telah terakumulasi dari hasil sistem edukasi di Jepang memegang peranan penting dalam pertumbuhan ekonomi Jepang pasca perang dunia ke dua.

Dan faktor yang paling penting adalah prioritas. Prioritas utama Negara-negara di Asia dimana kesempatan dan sumberdaya manusia yang masih terbatas adalah economic growth. Agar terjadi pertumbuhan ekonomi, mereka butuh mencetak skilled work force dengan cepat. Dan sistem edukasi yang seperti ini sejauh ini berhasil mencetak skilled work force dengan cepat. Sistem edukasi di Asia lebih difokuskan kepada ekonomi praktikal, efektivitas dan efisiensi. Dengan prioritas yang seperti ini dan jumlah penduduk yang banyak, rasanya belum memungkinkan bagi pemerintah untuk menyediakan sistem pendidikan yang mampu memfasilitasi segala jenis passion dan kecerdasan. Maka dari itu pemerintah hanya mampu menyediakan sistem edukasi yang mana output nya dibutuhkan dalam rangka mencapai pertumbuhan ekonomi.

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Model kurikulum di Indonesia sendiri menyerupai kurikulum di kebanyakan Negara Asia, namun tidak se-ekstrim dan sesulit seperti yang di China, Jepang, Korea Selatan maupun di Singapura. Dan pertanyaan yang muncul adalah, haruskah kurikulum pendidikan Indonesia mengikuti jejak China, Jepang dan Korea Selatan agar pertumbuhan ekonomi kita bisa menyamai mereka? Saya rasa tidak. Pressure yang diberikan dalam model kurikulum seperti ini berfungsi sebagai stimulus dan pemacu siswa dimana siswa tak memiliki pilihan lain selain belajar agar lulus ujian dimana ujian masih jadi satu-satunya faktor untuk melanjutkan ke jenjang berikutnya. Namun sesungguhnya stimulus dari luar sendiri tidaklah dibutuhkan apabila para siswa telah memiliki kesadaran yang kuat untuk menuntut ilmu. Bayangkan apabila seluruh siswa di Indonesia memiliki kesadaran untuk menuntut ilmu tanpa harus dipaksa, maka pemerintah tak akan khawatir akan kekurangan tenaga ahli. Akan banyak bermunculan orang-orang seperti Habibie dan Sri Mulyani. Dengan tingginya tingkat kesadaran menunutut ilmu, buat apa dibuat sistem pendidikan yang memberikan tekanan kepada siswa? Toh tanpa ada tekanan mereka semua sudah rajin belajar. Jujur saja, sepengalaman hidup saya apabila tak ada paksaan atau tekanan yang diberikan untuk belajar, rasanya hampir-hampir siswa di Indonesia enggan sekali membuka buku bahkan saya sendiri pun sering seperti itu (Ini juga karena faktor literasi yang belum membudaya di Negara kita).

Akhir kata saya hanya menanyakan kepada anda semua beberapa pertanyaan. Seberapa besar kalian ingin membantu Indonesia? Indonesia butuh orang-orang yang berilmu dibidangnya masing-masing. Siapkah kalian mati-matian belajar tanpa harus dipaksa agar kelak anda bisa berkontribusi untuk bangsa? Silahkan dijawab masing-masing.

References :
JAPAN’S GROWTH AND EDUCATION 1963 (Publisher : Japan Ministry of Education)
Insidehighered
Question on @Quora: Why are education and studies in Asian countries so tough? 

Educating for Diversity | Follow our social media @numbersacademy

(266)

Comments

comments