Numbers ID | Ilmu Ekonomi dan Feminisme

Ilmu Ekonomi dan Feminisme

Ditulis oleh Putri Maulida, Mahasiswi Filsafat Universitas Indonesia, Philosophy Contributor Numbers ID.

Pintu masuk berkembangnya feminist economics adalah melalui pemikiran filsuf Thomas Kuhn dan Quine di bidang filsafat ilmu. Kuhn menyatakan bahwa setiap observasi memiliki theory laden, pengetahuan diproduksi oleh komunitas ilmu pengetahuan, dan komunitas ilmu pengetahuan memiliki paradigma tertentu. Sedangkan Quine menyatakan bahwa bukti empiris mendeterminasi teori.

Dengan pernyataan tersebut, feminist economics melihat bahwa pada dasarnya ilmu ekonomi adalah konstruksi sosial dari komunitas ilmu ekonomi.

Feminist economics mengkritisi komunitas ilmu ekonomi dengan alat analisis yaitu kategori gender dan nilai, serta melihat bahwa komunitas ekonomi adalah komunitas maskulin yang mengabaikan kualitas feminin. Oleh karena itu, feminist economics melihat bahwa illmu ekonomi saat ini jauh dari kata objektif dan berusaha membantu ilmu ekonomi untuk mendekati objektivitas.

Pembuktian pernyataan tersebut, menurut Julie A. Nelson dapat dilihat dari empat aspek ilmu ekonomi, yaitu:

1. Model ekonomi

Menilik pada kisah mengenai Robinson Crusoe , persis seperti itulah definisi homo economicus yang didefinisikan oleh ilmu ekonomi dan hanya basis homo economicus yang paling sering dipakai dalam ilmu ekonomi. Feminist economics mengkritik hal tersebut karena tidak hanya manusia itu independen, tetapi juga dependen. Manusia dilahirkan oleh perempuan, dibesarkan bergantung dari orang tua, dan bersosial dengan lingkungannya. Homo economicus tidak bisa mencakupi sifat manusia yang tidak hanya independen, tetapi juga dependen, individual tetapi juga berelasi, memiliki nalar serta emosi.

Teori- teori dari George akerloff, Janet Yellen , dan Lee Levin dengan bukti empiris dan pendekatan psikologi dan sosiologi membuktikan bahwa model-model ekonomi yang non-mainstream juga bisa menjelaskan femonena ekonomi. Oleh karena itu, feminist economics menyarankan bahwa sebaiknya tidak hanya satu model saja yang berlaku dalam ilmu ekonomi, tetapi banyak model selama model tersebut reliable dengan realitas. Model ekonomi yang luas dapat melihat realitas-realitas ekonomi yang bersinggungan dengan politik, hukum, budaya, dan lainnya.

2. Metode ekonomi

Pada ilmu ekonomi, terdapat hierarki metode dimana metode-metode abstrak seperti matematika dinilai lebih baik daripada metode empiris berupa data dan bukti konkret yang detail.

Padahal, pada dasarnya seperti pernyataan Quine diatas, data memainkan peranan penting. The only virtue yang disematkan pada metode-metode abstrak melimitasi dan memiskinkan ilmu ekonomi. Ketidakseimbangan antara substansi dan metode membuat pelajar ekonomi terlatih secara teknik, tetapi tidak peka akan isu-isu ekonomi. Akan lebih baik bila kualitas positif maskulin dan feminin bergabung dalam merumuskan metode ekonomi.

Memakai pemikiran Sandra Harding mengenai “standpoint” , pengalaman personal dibutuhkan dalam pengambilan data. Posisi subjektif mempengaruhi pengetahuan yang dihasilkan, dan pengetahuan tersebut mempengaruhi orang lain (beserta dengan pengalamannya) dalam melahirkan pengetahuan. Amartya sen juga menyatakan bahwa objektifitas lahir dimana “pengetahuan didasarkan pada observasi posisional”. Helen longino juga menyatakan pada dasarnya objektivitas seseorang dilatarbelakangi oleh partisipasi dan diskusi terhadap komunitasnya.

Oleh karena itu, metode abstrak seperti matematika hanyalah satu alat dari berbagai macam alat yang ada. Tidak semestinya satu metode tersebut yang menjadi cara dalam menganalisis fenomena ekonomi. Ilmu ekonomi akan lebih baik bila memakai berbagai macam peralatan dalam menaganalisis fenomena ekonomi.

3.Topik ekonomi

Definisi ilmu ekonomi yang sempit -ilmu yang mempelajari proses bagaimana barang, jasa, dan aset finansial dipertukarkan- membuat ilmu ekonomi mengabaikan kegiatan tradisional perempuan seperti merawat anak, mengurus rumah, dan sebagainya sebagai hal yang noneconomic.

Gary Becker dan juga new home economists lainnya berpendapat sebaliknya bahwa “family is economic”. Pernyataan tersebut didasarkan bahwa aktivitas yang dilakukan di rumah sama halnya dengan aktivitas yang dilakukan di luar rumah. Dengan memakai definisi yang sempit, ranah dalam rumah hanya dianggap sebagai yang sosial dan familial. Hal tersebut membuat ilmu ekonomi bersifat unidimensional daripada multidimensional. Oleh karena itu, dibutuhkan definisi lebih luas terhadap ekonomi persis seperti pendapat Adam Smith bahwa ekonomi tidak hanya tentang pilihan dan pertukaran, tetapi juga produksi dan distribusi segala “necessaries and conveniences” kehidupan.

4. Pedagogi ekonomi

Seperti pemaparan yang disebutkan sebelumnya, terdapat hirarki dan dominasi di dalam model dan metodologi ekonomi. Dominasi dari sifat maskulin tersebut membuat ketidakseimbangan antara substansi dan metodologi seperti pemaparan sebelumnya.

Oleh karena itu, feminist economics menyarankan beberapa cara alternatif dalam pedagogi ilmu ekonomi seperti pembelajaran eksperimental dan sesi laboratori yang lebih berfokus pada data dan hubungan pendidik dan pelajar yang lebih dekat dan tidak berjarak dengan sering melakukan dialog dan diskusi.

Hierarki dalam pengajaran ekonomi membuat kasus ketidakadilan tersendiri karena pelajar yang lemah dalam bidang-bidang abstrak tidak dapat berpartisipasi banyak dalam ilmu ekonomi.

Dari pemaparan empat aspek ekonomi tersebut, Julie A Nelson sebagai feminist economics, ingin ilmu ekonomi tidak bias gender, lebih objektif, seimbang, multidimensional, dan produktif dalam memahami femonena ekonomi, baik itu dilakukan oleh laki-laki maupun perempuan.

Note: Julie A Nelson tidak menolak bahkan mengganti sifat maskulin yang ada dalam ilmu ekonomi, namun ia hanya ingin sifat feminin juga ada dan mengimbangi sifat maskulin yang telah ada pada ilmu ekonomi.

References :

Hausman, Daniel M., (ed.). (2007). The Philosophy of Economics: An Anthology. UK: Cambridge University Press

Davis, John B., Marciano, Alain., Runde, Jochen. (ed.). (2004). The Elgar Companions to Economic and Philosophy. UK: Edward Elgar Publishing

Educating for Diversity | Follow our social media @numbersacademy

(248)

Comments

comments