Numbers ID | Filsafat Teknologi dalam Perspektif Heidegger

Filsafat Teknologi dalam Perspektif Heidegger

Ditulis oleh Ahmad Hilda Fauzi, mahasiswa filsafat Universitas Indonesia, Philosophy Contributor Numbers.

Teknologi merupakan sebuah istilah yang sangat familiar dalam perkembangan masyarakat modern. Namun demikian, masih sedikit yang memahami tentang apa yang sejatinya disebut dengan teknologi, dan bagaimana implikasi teknologi terhadap kehidupan dan eksistensi manusia?. Berbagai macam argumen banyak dilontarkan oleh para pemikir filsafat teknologi, di mana optimisme maupun pesismisme terhadap teknologi telah menjadi perdebatan yang tidak dapat diputuskan dan diakhiri dengan sederhana. Dari sekian banyak pemikiran terkait dengan filsafat teknologi, terdapat satu gagasan menarik dari Heiddeger tentang bagaimana ia mendasarkan teknologi ke dalam ranah essensial dan mencoba mencari pemahaman yang komprehensif tentang apa itu teknologi.

Pemikiran Heidegger terkait dengan teknologi terdapat dalam tulisannya yang berjudul “The Questioning Concerning Technology”. Salah satu pertanyaan yang fundamental dalam tulisannya tersebut adalah bagaimana kita sebagai manusia terikat atau terhubung dengan teknologi dan bagaimana kita memikirkannya serta apa yang kita imajinasikan terhadap teknologi?. Pada dasarnya, Heidegger tidak begitu mempermasalahkan eksistensi dari teknologi tersebut, tetapi lebih kepada “orientasi” kita terhadap teknologi. Bagaimana teknologi tersebut justru mampu mendukung eksistensi manusia melalui konsep penyibakan diri (revealling; Aletheia) yang menjadi esensi dari teknologi bagi Heidegger. Melalui gagasan pemikiran Heidegger, kita akan diberikan sebuah pemahaman baru tentang bagaimana teknologi tidak hanya diartikan sebagai sebuah intstrument atau alat, melainkan juga sebagai suatu pola pikir yang mampu merubah pandangan kita dan menopang eksistensi kita di dunia.

Tesis awal Heidegger tentang teknologi adalah bahwa esensi teknologi bukanlah sesuatu yang selalu bersifat teknologis. Sering kali kita memahami teknologi hanya sebagai sebuah bentuk instrumental yang konkret seperti halnya mesin dll. Heidegger mencoba meluruskan definisi teknologi dengan mengatakan bahwa teknologi bukan hanya bersifat instrumental melainkan juga bersifat antropologis yang mewujud pada aktifitas manusia. Definisi teknologi tersebut berimplikasi bahwa teknologi tidak selamanya berwujud dalam bentuk materi tetapi hal-hal yang bersifat mentalistik dan psikomotorik juga bisa dikategorikan sebagai suatu bentuk teknologi. Setelah mengetahui definisi teknologi, tahap selanjutnya adalah mencari tahu tentang relasi apa yang terbangun antara manusia dengan teknologi. Sejatinya, teknologi memang dikembangkan sebagai instrument pembantu aktifitas manusia, namun apakah relasi tersebut masih berbentuk sebagai relasi subjek-objek, di mana manusia masih mampu mengkontrol laju teknologi atau justru sebaliknya manusialah yang dikontrol oleh teknologi itu sendiri.

Selanjutnya, Heidegger menyatakan bahwa esensi teknologi itu berbeda dengan eksistensi teknologi itu sendiri. Merujuk pada definisi teknologi Heidegger di mana aktivitas manusia pun merupakan bagian dari teknologi, dapat dikatakan bahwa esensi teknologi adalah aktivitas dan hasil dari pada aktivitas manusia. Dari hal tersebut bisa dilihat bagaimana peran teknologi dalam membantu eksistensi manusia. Sebagai contoh: adanya sebuah mobil menunjukkan sesuatu yang ada di balik mobil tersebut, yakni adanya aktivitas yang dilakukan oleh pekerja atau teknisi untuk membuat mobil tersebut. Pada awalnya keberadaan mobil masih bersifat potensial, namun dengan ada campur tangan pekerja yang membentuknya, maka eksistensi mobil itu dapat dimunculkan. Melalui ilustrasi tersebut kita bisa memahami bagaimana gagasan Heidegger yang menyatakan bahwa esensi teknologi mampu membantu eksistensi manusia, karena esensi dari mobil itu sendiri merupakan hasil aktifitas manusia, sehingga keberadaan teknologi itu sendiri sangat bergantung terhadap eksistensi manusia. Di sinilah maksud Heidegger tentang teknologi sebagai suatu proses penyibakan diri (revealing; aletheia), ia juga menambahkan bahwa jika kita merujuk pada teknologi sebagai techne, maka kita akan melihat bahwa esensi teknologi tidak berpijak pada produksi instrumental barang atau manipulasi material, tetapi pada “penyibakan”. Seperti contoh pekerja dan teknisi mobil di atas, di mana melalui techne-nya ia menaruh secara bersamaan forma dan materi dari pada mobil tersebut dalam kerangkan ide “kemobilan” yang pada akhirnya menampakan eksistensi mobil tersebut. Oleh karena itu, teknologi tidak bisa dipahami hanya sebagai sebuah bentuk instrumental, tetapi teknologi juga merupakan sebuah jalan yang ditujukan untuk menyingkap sesuatu, dari yang semula tidak nampak menjadi nampak/tersibak, Inilah yang disebut oleh Heidegger teknologi sebagai poesis.

Selain itu, terdapat istilah lebih lanjut untuk mengetahui apa yang dimaksud esensi teknologi menurut Heidegger. Esensi dari pada teknologi selain sebagai sebuah poesis juga merupakan bentuk dari gestall/enframing, untuk menunjang argumenya tersebut Heidegger memunculkan istilah standing-reserve yang erat kaitannya dengan gagasan “instrumentalitas”. Enframing dapat dipahami sebagai sebuah bentuk pola pikir tentang bagaimana orientasi manusia terhadap dunia, di mana hal tersebut mencoba mencari korelasi antara aspek kemanusiaan dengan dunia, dan orientasi teknologi instrumental terhadap dunia telah merubah dunia itu ke dalam standing-reserve.

Sebagi contoh: ketika kita melihat sungai, maka dapat terlintas suatu ide dalam pikiran kita untuk merubah sungai tersebut menjadi sebuah sarana pembangkit listrik. Ide perubahan terhadap sungai (sebagai bagian dari alam) untuk menjadi sebuah pembangkit listrik merupakan bentuk dari enframing, di mana teknologi dalam kaitannya dengan kemanusiaan selalu terikat dengan orientasi manusia itu sendiri terhadap dunianya (standing-reserve). Penyebutan istilah standing-reserve oleh Heidegger merupakan sebuah bentuk gagasan moral tentang teknologi, yang mana sejatinya teknologi tidak memiliki nilai baik pada dirinya, melainkan teknologi selalu merujuk pada “baik untuk” sesuatu. Dalam hal tersebut teknologi dipandang sebagai sebuah aset untuk memnuhi kebutuhan hidup manusia di masa mendatang.

Teknologi bagi Heidegger merupakan sebuah media untuk membebaskan diri dari belenggu hegemoni/pandangan yang salah/tidak tepat tentang sesuatu yang mengikat manusia. Hal tersebut dikarenakan Heidegger mengartikan tekonologi sebagai sebuah bentuk episteme atau perangkat ilmu yang memberi kita suatu pengetahuan. Pandangan Heidegger tentang peran teknologi yang mampu membebaskan manusia dari pengetahuan yang salah, dapat kita lihat melalui penemuan teropong bintang yang mampu mendorong munculya revolusi Copernicus oleh Galilleo. Sebelum ditemukannya teropong bintang, masyarakat pada kala itu masih mempercayai bahwa bumi itu merupakan pusat alam semesta (geosentris). Tetapi setelah ditemukannya teropong bintang pandangan bahwa pusat alam semesta itu bumi berubah menjadi matahari sebagai pusat alam semesta (heliosentris).

Dari penjabaran di atas dapat disimpulkan bahwa pemikiran Heidegger terkait dengan problem teknologi sangat kental dengan nuansa humanistis, karena dia memasukan unsur-unsur eksistensialis dalam pemahaman teknologinya. Kemudian gagasan-gagasn Heidegger tentang esensi dari pada teknologi telah menggiring pada satu bentuk pernyataan, etis khususnya etika lingkungan yang meyakini bahwa transformasi dunia sangat bergantung pada orientasi manusia dalam menyikapi dunianya (enframing), sehingga teknologi mampu membentuk hubungan antara kemanusian – teknologi dan dunia. Oleh karena itu, saya merasa bahwa pemikiran Heidegger dapat dikategorikan sebagai sebuah padangan optimisme terhadap peran teknologi.

Meski relasi subjek-objek seperti seakan hilang, namun secara implisit dapat kita pahami bahwa manusia itu sendiri adalah teknologi dengan seluruh kemampuan penalarannya, sehingga setiap teknologi yang tercipta tidak lagi berstatus sebagai sebuah objek yang diluar dirinya melainkan melekat pada diri manusia itu sendiri. Kemudia terakhir saya ingin mengatakan bahwa manusia sejatinya memang tidak akan pernah lepas dari cengkraman teknologi, oleh karena itu adalah salah jika kita ingin melakukan pembebasan terhadap teknologi tersebut. Dari kaca mata Heidegger saya menangkap bahwa pembebasan yang dimaksudkan adalah mengontrol teknologi terhadap orientasi kita sebagai manusia terhadap dunia, sehingga pencegahan terhadap dampak teknologi yang buruk mampu diatasi.

References :

Heidegger, Martin. The Questioning Concerning Technology

Ihde, Don. Filsafat Teknologi Suatu Pengantar, cetakan I, Penerjemah Yudian W. Asmin. 1995. Al-Ikhlas. Surabaya. Indonesia.

Educating for Diversity | Follow our social media @numbersacademy

(363)

Comments

comments