Numbers ID | Feminisme Simone De Beauvoir

Feminisme Simone De Beauvoir

Ditulis oleh Vincent Ricardo, CEO & Founder Numbers ID.

Kamu seorang feminis? Jangan mengklaim sebagai seorang feminis sejati kalau belum mengenal filsuf yang satu ini. Pasangan dari Jean Paul Sartre yang bernama Simone De Beauvoir inilah yang berhasil mengguncang dunia intelektual abad ke-20 dengan pernyataannya : “Laki-laki adalah manusia seutuhnya sedangkan perempuan adalah yang lainnya”. Sering kali Jean Paul Sartre dan Simone De Beauvoir dianggap sebagai pasangan kekuatan intelektual abad ke-20. Relationship goals-nya kalangan intelektual muda saat itu.

Filsuf berkebangsaan Prancis tersebut menulis dalam bukunya yang berjudul The Second Sex bahwasanya sepanjang sejarah peradaban manusia, tolak ukur untuk mendapatkan jawaban dari pertanyaan “Apa yang dibutuhkan untuk menjadi manusia” berdasarkan sudut pandang pria. Beberapa filsuf seperti Aristoteles secara eksplisit telah menyamakan seluruh kemanusiaan dengan maskulinitas. Beberapa filsuf yang lainnya tidak berdalil secara eksplisit, namun tetap menggunakan maskulinitas sebagai tolak ukur kemanusiaan.

Atas dasar alasan tersebut, Simone De Beavuoir menyatakan bahwasanya persona “Aku” dalam epistemologi filsafat pada dasarnya adalah laki-laki. Maka dari itu perempuan merupakan “Yang lainnya”.Hakikat dari “aku” adalah aktif dan mengetahui, namun perempuan sebagai “Yang lainnya” adalah keseluruhan negasi dari “aku” : pasif, tidak memiliki hak untuk menyuarakan pendapatnya, dan tidak memiliki kekuatan apa-apa.

De Beauvoir juga prihatin dengan bagaimana perempuan dipandang sama layaknya laki-laki. Bahkan ia juga menyatakan prihatin terhadap cara pandang orang-orang yang telah menulis untuk memperjuangkan kesetaraan perempuan dan menganggap kesetaraan berarti perempuan dapat menjadi laki-laki. Simone de Beauvoir menyatakan bahwasanya klaim tersebut keliru, karena argumen tersebut mengabaikan fakta bahwasanya perempuan dan laki-laki berbeda.

Latar belakang filsafat Simon De Beauvoir adalah fenomenologi. Fenomenologi adalah sebuah studi dalam bidang filsafat yang mempelajari manusia sebagai sebuah fenomena. Ilmu fenomonologi dalam filsafat biasa dihubungkan dengan ilmu hermeneutik, yaitu ilmu yang mempelajari arti daripada fenomena ini. Pandangan ini menyatakan bahwasanya tiap-tiap individu membangun dunianya dari dalam bingkai kesadarannya masing-masing. Kita membuat benda-benda dan makna dari pengalaman kita sendiri. Maka dari itu Simon de Beauvoir mempertahankan bahwasanya hubungan kita dengan tubuh kita sendiri, dengan orang lain dan juga pada dunia, sebagaimana filsafat itu sendiri besar dipengaruhi apakah kita adalah seorang laki-laki atau perempuan.

Feminisme eksistensial

Di samping merupakan seorang feminis, Simon De Beauvoir juga seorang eksistensialis. Ia meyakini bahwasanya manusia lahir tanpa tujuan dan harus menuliskan makna yang otentik untuk hidupnya, termasuk memilih tujuan hidup mereka. Dalam mengaplikasikan gagasan eksistensialisme ke dalam ide “perempuan”, dia mendorong kita untuk memisahkan entitas biologi (bentuk tubuh biologis perempuan) dari femininitas yang dianggapnya sebagai konstruksi sosial. Dikarenakan tiap-tiap konstruksi sosial terbuka untuk perubahan dan interpretasi, ini berarti bahwasanya ada banyak jalan untuk menjadi seorang wanita. Selalu ada ruang untuk pilihan eksistensial.

Dalam pembukaan bukunya yang berjudul The Second Sex, de Beauvoir mengingatkan pentingnya kesadaran masyarakat akan fluiditas gender :

“We are exhorted to be women, remain women, become women. It would appear, then, that every female human being is not necessarily a woman.”

Kemudian ia juga menegaskan posisinya secara eksplisit dalam bahasa Prancis :

‘On ne saît pas femme, on ledevient ’

Bahwasanya tidak seorang pun terlahir sebagai perempuan, melainkan menjadi perempuan.

De Beauvoir mengatakan bahwasanya perempuan harus membebaskan diri mereka baik dari pemikiran bahwasanya seorang perempuan harus menjadi seperti seorang pria dan pasivitas yang telah masyarakat paksa selama ini. Hidup dalam sebuah eksistensi yang otentik akan mendatangkan lebih banyak resiko daripada menerima paksaan dan desakan dari masyarakat, tapi itu lah satu-satunya jalan untuk kebebasan dan kesetaraan perempuan.

References :

The Philosophy Book : Big Ideas Simply Explained.

Plato Stanford

Open Culture

 

Educating for Diversity | Follow our social media @numbersacademy

(267)

Comments

comments