Numbers ID | Ekonomi Klasik dan Ekonomi Neo-Klasik

Ekonomi Klasik dan Ekonomi Neo-Klasik

Ditulis oleh Putri Maulida, Mahasiswi Filsafat Universitas Indonesia, Philosophy Contributor Numbers ID.

Ekonomi klasik berbeda dengan ekonomi neo-klasik, yang mana ekonomi klasik penuh dengan elemen-elemen seperti ideologi, politik, dan dugaan-dugaan. Ekonomi klasik dilatar belakangi oleh keadaan sosial dan politik yang menuntut adanya penjelasan yang menyertainya sebagai upaya untuk meraih nilai-nilai seperti keadilaan, kesejahteraan, kemakmuran dan nilai-nilai lainnya.

Seperti teori Adam Smith yang dilatar belakangi oleh keadaan masyarakat miskin yang tidak mempunyai barang-barang kebutuhannya, lalu teori David Ricardo yang dilatar belakangi oleh perang Napoleon serta kaitannya dengan impor jagung dan land owners, serta teori Karl Marx yang dilatar belakangi oleh keadaan kaum proletar yang dieksploitasi oleh kaum borjuis. Dalam hal ini, ekonomi klasik cenderung pada ekonomi tipe normatif yang erat kaitannya dengan isu-isu sosial dan nilai-nilai seperti kesejahteraan dan keadilan. Paradigma yang dipakai pada ekonomi klasik ialah paradigma interpretif dan paradigma kritikal (pada Karl Marx).

Paradigma interpretif memuat subjek sebagai objek penting untuk dikaji, dalam hal ini manusia pada ekonomi. Kenapa? karena paradigma ini berpandangan bahwa peran subjek penting dalam menciptakan realitas ekonomi. Lebih jauh, metode penelitian yang digunakan pun ialah metode kualitatif dan cenderung bersandar pada common sense. Paradigma interpretif memiliki tujuan untuk memahami dan menjelaskan tindakan-tindakan manusia. Lalu, pada paradigma kritikal seperti yang dianut Karl Marx, teorinya memiliki tujuan untuk membongkar realitas dan memberdayakan manusia untuk mengubah masyarakat. Paradigma kritikal cenderung memakai metode kualitatif, namun juga bisa memakai metode kuantitatif.

Ekonomi neo-klasik datang untuk menjawab keraguan akademisi akan validitasnya sebagai sebuah ilmu. Hal ini menjadi kritikan tersendiri bagi ekonomi karena hanya bergantung pada common sense, dugaan-dugaan yang tidak terformulasi secara presisi dengan menggunakan analisis matematis, dan tidak memuat hukum-hukum yang pasti. Dapat diketahui secara historis bahwa ilmu ekonomi adalah subjek yang baru bila dibandingkan dengan ilmu-ilmu lain seperti biologi, fisika, dan ilmu-ilmu lainnya.

Kemasyhuran fisika pada zaman itu menjadi pedoman bagi para ekonom (dimulai oleh Alfred Marshall dan Leon Walras) untuk merubah arah paradigma ekonomi yang cenderung interpretif dan kritikal menuju paradigma positivistik. Berbeda dengan paradigma interpretif dan kritikal, paradigma positivistik melihat realitas sebagai sesuatu yang independen, bebas dari nilai-nilai, regular, repetitif, dan berpola. Peran subjek direduksi sedemikian rupa sehingga tercetuslah nosi homo economicus dan homo rationale.

Dengan memakai pendekatan ini, ilmu ekonomi akhirnya melahirkan beberapa prinsip seperti prinsip supply and demand, opportunity cost, dan prinsip-prinsip lain yang mana metode penelitan dilakukan secara kuantitatif. Prinsip-prinsip yang lahir, layaknya tujuan dari paradigma positivistik, menjadi alat untuk meramalkan kejadian-kejadian di masa mendatang, yang mana hal tersebut menjadi kekuatan bagi paradigma positivistik sekaligus kelemahan bagi paradigma kritikal dan interpretif. Ekonomi klasik yang bersifat spekulatif, naratif, dan penuh nilai berubah menjadi hukum-hukum yang memuat perhitungan matematis dan bebas nilai yang akhirnya disebut ekonomi neo-klasik. Ekonomi klasik yang cenderung normatif berubah menjadi positif seperti yang kita ketahui saat ini. Selayaknya ilmu-ilmu postivistik lainnya, ekonomi neo-klasik pun memiliki tendensi untuk menjawab segala masalah dengan prinsip-prinsip ekonomi. Hal ini menjadi imperialisme tersendiri bagi ekonomi neo-klasik.

Reference:

Varoufakis, Yanis. (2002). Foundation of Economics: A Beginner’s Companion. London: Routledge

Educating for Diversity | Follow our social media @numbersacademy

(428)

Comments

comments