Numbers ID | Apakah Benar Bumi Datar?

Apakah Benar Bumi Datar?

Ditulis oleh Faathir Reza Avicena, mahasiswa Matematika ITB, Science Contributor Numbers ID.

Belakangan ini, santer sekali terdengar di bermacam media sosial mengenai Flat Earth.

Apa sih Flat Earth itu?

Flat Earth ialah suatu kepercayaan bahwa Bumi kita ini sebenarnya berbentuk datar atau lempengan, alih – alih bulat. Model Bumi paling baru yang diusung adalah berupa suatu lempengan datar dengan Artik sebagai pusat lempengan dan Antartika sebagai tembok es yang mengelilingi lempengan Bumi, sementara matahari dan bulan berjarak sekitar 3000 mil (±4800 km) dan kosmos berjarak 3100 mil (±5000 km).

Kepercayaan bahwa Bumi berbentuk datar merupakan ciri khas dari kosmologi kuno hingga sekitar abad keempat CE, ketika para filsuf Yunani kuno mulai mengembangkan model Bumi bulat. Salah satu pemikir pertama yang mengajukan model Bumi bulat adalah Aristoteles pada 330 SM. Menjelang Abad Pertengahan, pengetahuan bahwa Bumi itu bulat telah menyebar di seluruh Eropa.

Hipotesis modern yang mengangkat kembali teori Bumi datar dicetuskan oleh seorang Inggris, Samuel Rowbotham (1816 – 1884). Berdasarkan penafsirannya mengenai ayat – ayat tertentu di Alkitab, Rowbotham mengembangkan sebuah buku berjudul Earth Not a Globe, yang menguraikan pandangannya. Di dalam buku tersebut, tercatat juga percobaan Rowbotham di sungai Old Bedford yang dilakukan sebagai justifikasi pandangannya. Pada titik yang dipilih untuk eksperimen, sungai tersebut berarus pelan sepanjang 6 mil hingga ke timur laut desa Welney. Beliau masuk ke dalam sungai dan menggunakan teropong 8 inci di atas permukaan air untuk mengamati sampan, dengan bendera di tiangnya yang berjarak 3 kaki dari permukaan air, mendayung perlahan menjauhi beliau. Beliau mencatat bahwa sampan tersebut selalu berada pada jangkauan penglihatannya sepanjang 6 mil tersebut, padahal, jika bumi benar melengkung maka seharusnya ujung tiang bendera tersebut berada 11 kaki dibawah jangkauan penglihatannya.

Rowbotham berulang kali melakukan percobaan tersebut namun tidak mendapat perhatian banyak dari public, hingga pada 1870, salah satu pendukung Rowbotham bernama John Hampden bertaruh dengan Alfred Russel Wallace untuk mengulangi percobaan tersebut (yang kemudian dinamai Bedford Level Experiment) dan membuktikan bahwa bumi benar – benar datar. Ya, Alfred Russel Wallace yang namanya dijadikan nama dari garis hipotesis yang membatasi wilayah geografi hewan Asia dan Australasia di Indonesia yang namanya sering kamu dengar ketika mempelajari pelajaran geografi di SMA.

Wallace, yang merupakan seorang surveyor dan memahami fisika, menghindari kesalahan pada percobaan Rowbotham dan memenangkan taruhan tersebut. Langkah penting yang dilupakan oleh Rowbotham adalah mempertimbangkan adanya refraksi cahaya oleh atmosfer. Dengan mengatur tinggi teropong 13 kaki di atas permukaan air, Wallace mendapat pengamatan akurat dan mematahkan klaim Rowbotham.

Nah, setelah kamu tahu apa itu Flat Earth, berikut adalah eksperimen – eksperimen kecil yang bisa kamu lakukan untuk meyakinkan dirimu sendiri bentuk Bumi itu tidak datar.

1. Observasi gerhana bulan
Gerhana bulan adalah fenomena yang terjadi ketika Bumi menghalangi matahari untuk menyinari bulan.
Amati permukaan bulan ketika gerhana berlangsung, dan kamu akan mendapati bayangan Bumi berupa lingkaran akan terbentuk di sana.

“Loh, kalo lempengan kan juga bayangannya bisa aja lingkaran?”

Ya, memang. Tetapi ingat bahwa gerhana bulan tidak selalu terjadi pada sudut yang sama. Seandainya Bumi berbentuk lempengan datar, maka akan ada kemungkinan terbentuk bayangan Bumi berupa garis lurus di bulan (membentuk siluet mata kucing) ketika terjadi gerhana. Ini akan terjadi ketika sinar matahari datang dari “samping” lempengan Bumi.

Dari sekian banyak hasil observasi gerhana bulan (bisa kamu temukan dengan mudah di internet) yang terjadi dan dipotret dari berbagai macam sudut, bayangan Bumi yang terbentuk berbentuk lingkaran. Hal ini hanya masuk akal apabila bentuk Bumi berbentuk bulat.

2. Observasi kapal laut
Pergilah ke dermaga manapun yang terdekat dengan tempat tinggalmu. Amati kapal yang datang dan pergi.Kamu akan dapati bahwa ketika kapal menjauh, kapal tersebut seakan “tenggelam” perlahan – lahan. Kamu tidak menemui hal tersebut jika Bumi itu datar. Alih – alih ketika kapal menjauh, kamu akan dapati bahwa kapal tersebut akan semakin lama semakin mengecil.

3. Adanya zona waktu
Pada siang hari bolong, coba kamu telepon kawanmu di New York dan kamu akan dimarahi karena membangunkannya pada tengah malam. Kirimkan pesan selamat tidur pada kekasihmu di Berlin dan dia akan bingung karena dia baru saja bangun pagi. Ingatkan temanmu di London untuk Salat Ashar dan dia justru akan mengingatkanmu untuk Salat Isya. Ceritakan bahwa kamu baru saja selesai Misa hari Minggu pagi pada kekasihmu di Budapest dan dia akan bercerita bahwa dia baru saja selesai jogging sore.
Hal ini hanya bisa terjadi bila Bumi berbentuk bulat dan berotasi pada porosnya. Pada saat yang sama, terdapat permukaan yang diterangi oleh matahari sementara permukaan sebaliknya gelap. Inilah yang menyebabkan terjadinya zona waktu. Pada Bumi yang datar, kita dapat melihat matahari meskipun kita tidak sedang diterangi oleh matahari.

4. Perbedaan rasi bintang
Aristoteles (384 – 322 BCE) mengamati bahwa langit malam di Siprus dan di Mesir ternyata memiliki rasi bintang yang berbeda. Tidak, kamu tidak harus pergi ke Siprus dan Mesir untuk membuktikannya. Cukup dengan mengamati langit malammu saat ini. Bandingkan pengamatanmu dengan pengamatan kawanmu yang lokasinya di utara atau di selatanmu. Semakin jauh jarak temanmu itu, maka rasi bintang yang kamu kenali akan semakin ke ujung horizon. Hal ini tidak akan terjadi bila Bumi datar.

5. Perbedaan panjang bayangan
Ambil sebuah batang kayu (atau apapun yang bentuknya serupa). Tegakkan di atas tanah dan hitung panjang bayangannya. Mintai tolong temanmu di kota lain untuk lakukan hal yang sama pada saat yang bersamaan. Pastikan objek yang kalian gunakan berdimensi sama ya. Bila Bumi berbentuk datar, kalian akan mendapatkan hasil pengukuran yang sama. Namun nyatanya, hasil perhitungan kalian akan berbeda. Ini hanya mungkin terjadi bila Bumi berbentuk bulat. Eksperimen ini pertama kali dilakukan oleh Erastothenes (276 – 194 BCE) untuk menghitung keliling Bumi.

Nah, jadi kamu masih yakin kalau bumi itu datar?

References :

Rationalwiki

Physlink

Quora

Nerdist

Smarterthanthat

Physics Stack Exchange

The Form of the Earth: A Shock of Opinions. The New York Times. 10 Agustus 1871

 

Educating for Diversity | Follow our social media @numbersacademy

(239)

Comments

comments