Numbers ID | Apakah Agama Sejalan Dengan Sains?

Apakah Agama Sejalan Dengan Sains?

Ditulis oleh Vincent Ricardo, Chief Executive Officer & Founder Numbers ID.

Dari hari ke hari, orang-orang selalu memperdebatkan apakah agama sejalan dengan sains. Lalu bagaimanakah sebenarnya, apakah agama sejalan dengan sains? Sebelum menjawab pertanyaan di atas, ada baiknya kita mengelaborasi terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan agama dan apa yang dimaksud dengan sains.

Jika kita merujuk pada agama dalam bahasa inggris (religion) yang berasal dari bahasa Latin (religio) yang memiliki arti sekelompok orang yang memiliki pandangan Ketuhanan yang sama. Maka dari itu religion dapat diartikan secara positif maupun negatif sebagaimana dalam ICCPR (International Convenant of Civil and Political Rights) yang memandang bahwasanya kepercayaan non-theistic seperti Atheism, Agnosticism, Deism, dan lain-lain merupakan bagian dari religion atau agama juga. Sedangkan, Agama dalam bahasa Sanskrit (आगम) merupakan paduan dari kata गम (gam) yang memiliki arti “berlalu” dan preposisi आ (aa) dengan arti “menuju” dengan kata lain sebagai “sesuatu yang diturunkan secara turun temurun” atau “tradisi”. Hal ini bertentangan dengan common-sense yang ada yang di masyarakat yang mengartikan bahwasanya agama berasal dari “a” dan “gamma” berarti tidak kacau.

Definisi agama yang ada di dalam common-sense masyarakat ini etimologinya sendiri belum jelas. Namun, berdasarkan klaim-klaim yang dibuat oleh beberapa otoritas, terdapat setidaknya tiga syarat dari suatu agama yaitu :
1. Harus Memiliki Tuhan yang disembah
2. Harus Memiliki Kitab Suci sebagai pegangan ajaran.
3. Harus memiliki pengikut

Secara tidak langsung, berdasarkan tiga persyaratan di atas secara otomatis Buddha bukan merupakan agama karena Sidharta Gauthama sendiri tidak pernah menyatakan adanya eksistensi Tuhan ataupun menolak eksistensi Tuhan (agnostik). Bahkan, ia mengatakan bahwasanya mempercayai Tuhan tidak berguna untuk mencari pencerahan. Selain itu tidak ada kewajiban bagi umat Buddha untuk menjadikan kitab suci sebagai pegangan ajaran namun Gautama malah menganjurkan Ehipassiko (datang dan buktikan). Lalu definisi agama mana yang kita pakai? Religion? Agama dalam bahasa Sankrit? Atau Agama dalam common-sense masyarakat Indonesia? Jika dilihat dari keseluruhan definisi di atas, maka lebih mudah untuk mengerucutkan definisi agama dalam common-sense masyarakat Indonesia untuk mempermudah menjawab pertanyaan utama di atas.

Lalu apa itu Sains? Sains jika merujuk ke Merriam-Webster berarti “Pengetahuan atau studi tentang alam berdasarkan fakta yang didapatkan melalui eksperimen dan observasi” Lantas kemudian apakah agama dan sains sejalan? Jawabannya, TIDAK. Tidak ada satu pun teks kitab suci dalam agama yang sejalan dengan sains dan perlu diketahui menghubung-hubungkan kitab suci suatu agama dengan sains hanya memberikan kerugian baik dalam sains maupun agama.

Mengapa begitu? Meminjam istilah dari Stephen Jay Gould yang merupakan seorang ahli biologi, agama dan sains tidak dapat tumpang tindih (Non-Overlapping Magisteria). NOMA adalah pandangan Stephen Jay Gould yang menyatakan bahwa sains dan agama masing-masing mewakili ruang lingkup yang berbeda yaitu fakta (sains) dan agama (nilai-nilai). Untuk menjadi suatu fakta, sains harus menyodorkan teori-teori dan hukum yang bersifat falabilis, yang artinya harus dapat dibantahkan dan terus dievaluasi dari masa ke masa. Sedangkan kitab suci dalam agama bersifat rigid, tidak terbantahkan dan tidak mungkin diubah. Interpretasi kitab suci secara literal (mengartikan secara harafiah) tentu bersebrangan dengan sains yang ada saat ini, sedangkan menginterpretasikan kitab suci secara liberal (mengartikan naskah kitab suci sebagai kiasan-kiasan) pun tidak akan mendapatkan titik temu antara sains dan agama itu sendiri karena perbedaan sifat di antara keduanya.

Seorang pemikir dari Britania Raya, Alain de Botton menyatakan bahwasanya yang diajarkan Agama bukanlah ilmu pengetahuan ataupun kebenaran namun merupakan salah satu wadah pencarian harapan bagi manusia-manusia yang berada dalam keputus-asaan. Alain de Botton mencontohkan dalam Injil, Mark 5:38-42, saat Yesus mendatangi suatu keributan di mana orang-orang menangis dan meratap dengan suara nyaring. Dan ketika ia masuk, ia berkata kepada mereka, “Mengapa kamu membuat keributan dan menangis? Anak itu tidak mati, tetapi tidur. Orang-orang pun menertawainya dan kemudian Yesus berkata “Gadis Kecil, bangunlah!”, gadis kecil pun tersebut terbangun dari kematiannya.

Apa yang diajarkan dalam injil tersebut bukanlah suatu kebenaran, mustahil bahwasanya seseorang dapat terlahir kembali dalam kehidupan, sains tidak pernah mengenal keajaiban, pun keberadaan Yesus sendiri saat ini masih a-historis dan masih dapat diperdebatkan. Namun pesan yang tersirat bukanlah itu, kita tidak bisa menganggap seluruh cerita tersebut sebagai omong kosong, ketika orang yang kalian cintai sedang dalam keadaan kritis, kalian mungkin dapat kembali mempercayai keajaiban atau suatu mukjizat karena suatu hari di bawah tekanan psikologis yang begitu besar, kalian mencintai seseorang yang kalian cintai lebih daripada kalian mempedulikan hukum fisika dan biologi.

Saat ini, seharusnya orang-orang tidak lagi mencampuradukkan antara sains dan agama. Sudah cukup kita memperdebatkan kepercayaan yang merupakan urusan masing-masing individu. Mari beralih untuk membangun peradaban yang lebih baik dengan ilmu pengetahuan.

References :

Office of The High Commisioner United Nations Human Rights 

Kamus Sankrit

Gould, Stephen Jay (2002). Rocks of Ages: Science and Religion in the Fullness of Life. New York: Ballantine Books.

Alain De Botton (2012). Religion for Atheists. London: Hamish Hamilton.

Walter Isaacson. (2007Einstein : His Life and Universe. New York : Simon & Schuster

Educating for Diversity | Follow our social media @numbersacademy

(309)

Comments

comments